Setapak Langkah – 26 Mei 2026 | Upaya mengakhiri ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan internasional setelah munculnya pendapat akademisi bahwa peran Israel, khususnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dapat menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan kesepakatan damai.
Lorenzo Kamel, profesor sejarah di Universitas Turin, Italia, menegaskan bahwa Washington perlu menahan kebijakan luar negeri Netanyahu agar proses negosiasi tidak terhambat. Menurut Kamel, sikap agresif Israel di kawasan, terutama serangan terbaru di Lebanon, dapat memicu eskalasi yang merusak kepercayaan antara Tehran dan Washington.
Serangan Israel di Lebanon yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir menambah ketegangan regional. Operasi militer tersebut, yang diklaim sebagai respons terhadap aktivitas kelompok militan Hezbollah, menimbulkan korban sipil dan memperburuk citra Israel di mata komunitas internasional.
Dalam konteks ini, Washington dipandang harus mengadopsi pendekatan yang lebih seimbang: sekaligus menegaskan komitmen keamanan Israel, namun juga menahan tindakan unilateral yang dapat memperparah situasi. Kamel menyarankan dialog intensif dengan Netanyahu serta penggunaan tekanan diplomatik sebagai mekanisme kontrol.
Jika Amerika Serikat berhasil mengendalikan dinamika politik Israel, peluang tercapainya perjanjian damai dengan Iran dapat meningkat. Sebaliknya, kegagalan mengelola “kartu liar” tersebut berisiko menimbulkan konflik yang lebih luas, memperumit upaya de‑eskalasi dan mengancam stabilitas Timur Tengah.