Setapak Langkah – 25 Mei 2026 | Seorang siswa bernama Cathlyn Yvaine Lesmana yang berhasil menempati tiga besar dalam seleksi Paskibraka Sulawesi Selatan tidak diundang ke Istana untuk upacara peringatan Hari Kemerdekaan, memicu pertanyaan tajam dari Wali Kota Makassar mengenai transparansi dan keadilan proses seleksi tersebut.
Latar Belakang
Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera) merupakan simbol kehormatan bagi pelajar yang terpilih mengibarkan bendera merah putih pada upacara kenegaraan. Setiap provinsi menyelenggarakan seleksi ketat untuk menentukan wakilnya. Pada tahun ini, Cathlyn Yvaine Lesmana, siswa SMA di Makassar, berhasil menembus tiga besar dalam seleksi provinsi Sulsel.
Proses Seleksi Paskibraka Sulsel
Seleksi biasanya meliputi tes akademik, kebugaran fisik, keterampilan menurunkan bendera, serta penilaian kepribadian. Namun, Wali Kota mengkritik kurangnya keterbukaan dalam penetapan finalis yang diundang ke Istana.
| Tahapan | Waktu | Deskripsi |
|---|---|---|
| Ujian Tertulis | 1‑15 Mei 2024 | Materi kebangsaan, sejarah, dan bahasa Indonesia |
| Ujian Fisik | 16‑20 Mei 2024 | Lari 100 meter, push‑up, sit‑up |
| Praktek Menurunkan Bendera | 21‑23 Mei 2024 | Demonstrasi teknik menurunkan bendera secara tepat |
| Wawancara Kepribadian | 24‑25 Mei 2024 | Penilaian sikap, kepemimpinan, dan nilai moral |
Reaksi Wali Kota Makassar
Wali Kota Makassar, melalui juru bicaranya, menyatakan bahwa proses seleksi harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. “Jika seorang pelajar berhasil masuk tiga besar, seharusnya ia mendapat kesempatan yang setara untuk berpartisipasi di Istana. Kami menuntut klarifikasi resmi dari panitia seleksi,” katanya.
Tanggapan Panitia Seleksi
Panitia Paskibraka Sulsel menjawab bahwa jumlah slot ke Istana terbatas dan dipilih berdasarkan kombinasi nilai total serta kebijakan internal yang tidak dipublikasikan secara lengkap. Mereka berjanji akan meninjau kembali mekanisme penetapan slot.
Implikasi dan Langkah Selanjutnya
- Pengawasan publik terhadap proses seleksi Paskibraka diperkirakan akan meningkat.
- Wali Kota berencana mengajukan usulan revisi regulasi seleksi agar lebih transparan.
- Para siswa dan orang tua diharapkan menuntut kejelasan kriteria penilaian.
Kasus ini menyoroti pentingnya keadilan dalam kompetisi yang menyangkut simbol kebangsaan, sekaligus membuka ruang diskusi tentang perbaikan prosedur seleksi di tingkat provinsi.