Setapak Langkah – 23 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat akhir-akhir ini memicu perbincangan luas di kalangan analis dan publik. Namun, Ekonom Muhammadiyah menegaskan bahwa pergerakan mata uang tidak dapat dijadikan tolok ukur utama untuk menilai kesehatan ekonomi nasional.
Beberapa data terbaru menunjukkan bahwa meskipun rupiah berada pada level terendah dalam satu tahun terakhir, sektor ekspor terus mencatat peningkatan, sementara inflasi tetap berada di bawah target Bank Indonesia. Hal ini menandakan bahwa dinamika nilai tukar tidak selalu berbanding lurus dengan aktivitas ekonomi riil.
- Faktor eksternal: Fluktuasi dolar global, kebijakan moneter Amerika Serikat, dan harga komoditas menjadi penyebab utama tekanan pada rupiah.
- Faktor internal: Kebijakan fiskal, cadangan devisa, serta kepercayaan investor domestik dan asing memengaruhi kestabilan nilai tukar.
Ekonom Muhammadiyah juga menambahkan bahwa fokus pada kebijakan struktural, seperti peningkatan produktivitas, pengembangan infrastruktur, dan reformasi regulasi, lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang dibandingkan sekadar menstabilkan nilai tukar.
Dengan demikian, meskipun nilai rupiah menjadi indikator yang mudah dilihat oleh masyarakat, menilai kondisi ekonomi Indonesia memerlukan analisis yang lebih holistik dan mempertimbangkan rangkaian indikator makroekonomi lainnya.