Setapak Langkah – 21 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) pada hari ini mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25%, naik 25 basis poin dari tingkat sebelumnya. Kebijakan moneter ini diambil untuk menahan tekanan inflasi yang masih berada di atas target dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
Kenaikan BI Rate berdampak langsung pada biaya dana bagi lembaga keuangan. Secara umum, bank-bank dihadapkan pada tantangan meningkatkan margin bunga sambil menjaga likuiditas. Banyak institusi memperketat manajemen risiko kredit dan menyesuaikan suku bunga pinjaman.
Bank Tabungan Negara (BTN) menanggapi situasi ini dengan fokus pada penguatan Current Account Savings Account (CASA). BTN menargetkan peningkatan proporsi dana CASA dalam struktur pendanaannya untuk menurunkan biaya dana keseluruhan, karena dana CASA biasanya lebih murah dibandingkan dana dana pihak ketiga (DPK) lainnya.
| Bank | Strategi Utama |
|---|---|
| BTN | Penguatan CASA, Pengendalian Biaya Dana |
| Bank Lain | Diversifikasi Pendanaan, Penyesuaian Suku Bunga Kredit |
Selain memperkuat CASA, BTN juga berupaya meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan penggunaan teknologi digital, serta memperketat pengelolaan kredit untuk menjaga kualitas aset di tengah suku bunga yang lebih tinggi.
Para analis memperkirakan bahwa jika BTN berhasil meningkatkan porsi CASA secara signifikan, beban biaya dana dapat ditekan, sehingga profitabilitas bank tetap terjaga meski margin bunga bersaing menjadi lebih ketat. Namun, persaingan antar bank dalam menarik dana CASA diperkirakan akan semakin intensif, mengingat konsumen kini lebih selektif dalam memilih produk tabungan dengan imbal hasil yang kompetitif.
Kebijakan BI Rate yang baru ini diproyeksikan akan menurunkan laju inflasi dalam beberapa kuartal mendatang, sekaligus memberikan ruang bagi bank untuk menyesuaikan strategi pendanaan jangka panjang. Bagi BTN, penguatan CASA menjadi langkah strategis utama dalam menghadapi tantangan biaya dana yang naik.