Setapak Langkah – 18 Mei 2026 | Jakarta – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menegaskan bahwa penurunan nilai tukar rupiah tidak memberikan dampak signifikan bagi penduduk desa. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah wawancara televisi pada Senin (17/5/2024).
Reaksi Pengamat Ekonomi UGM
Fahmy Radhi, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, menilai pernyataan tersebut terkesan gegabah. Fahmy menekankan bahwa pelemahan rupiah berimplikasi langsung pada biaya impor, termasuk barang konsumsi dan bahan baku produksi, yang pada akhirnya menambah tekanan inflasi bagi masyarakat desa dan kelas menengah.
- Harga impor naik akibat nilai tukar yang melemah meningkatkan biaya produksi pertanian, terutama pupuk dan pestisida.
- Biaya transportasi dan logistik yang dipengaruhi oleh harga bahan bakar impor turut mempengaruhi harga hasil pertanian di pasar lokal.
- Kenaikan tarif haji dan biaya pendidikan di luar negeri menjadi beban tambahan bagi keluarga desa yang mengirimkan anggota untuk menunaikan ibadah atau melanjutkan studi.
Data Dampak Inflasi Terbaru
| Komoditas | Perubahan Harga (%) |
|---|---|
| Pupuk Urea | +12,5 |
| Minyak Goreng | +8,3 |
| Biaya Haji | +9,0 |
Fahmy mengingatkan bahwa desa-desa yang bergantung pada subsidi pemerintah berpotensi merasakan dampak negatif apabila inflasi terus meningkat. Ia mengusulkan agar pemerintah memperkuat kebijakan penstabilan nilai tukar melalui intervensi pasar dan peningkatan cadangan devisa.
Selain itu, pengamat menekankan pentingnya program diversifikasi ekonomi desa, termasuk pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tidak terlalu terpapar pada volatilitas pasar internasional.
Prabowo menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan paket stimulus dan kebijakan fiskal untuk melindungi sektor pertanian. Ia menutup dengan harapan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga keuangan dapat menahan laju inflasi dan menjaga kesejahteraan rakyat, termasuk masyarakat desa.