Setapak Langkah – 04 Mei 2026 | Para peneliti di Indonesia berhasil mengembangkan sebuah proses berbasis energi surya yang dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar cair yang ramah lingkungan. Teknologi ini memanfaatkan fotokatalis yang diaktifkan oleh sinar matahari untuk memecah rantai polimer plastik menjadi molekul-molekul hidrokarbon yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bensin atau diesel.
Berikut tahapan utama dalam konversi tersebut:
- Pemilahan dan pencucian plastik untuk menghilangkan kotoran.
- Pencairan plastik dalam reaktor yang dilapisi fotokatalis khusus.
- Penerapan sinar matahari langsung atau melalui konsentrator optik selama 4‑6 jam.
- Pemecahan ikatan kimia plastik menjadi senyawa hidrokarbon sederhana.
- Pemisahan dan pemurnian hasil menjadi bahan bakar siap pakai.
Hasil percobaan laboratorium menunjukkan bahwa dari 1 ton limbah plastik dapat dihasilkan sekitar 700 liter bahan bakar dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan proses pembakaran konvensional.
| Parameter | Metode Tradisional | Metode Surya |
|---|---|---|
| Emisi CO₂ per liter bahan bakar | ≈2,3 kg | ≈0,8 kg |
| Energi listrik yang dibutuhkan | ≥1500 kWh | ≈0 kWh (memanfaatkan sinar matahari) |
| Biaya operasional | Rendah‑menengah | Rendah |
Dr. Rina Suryani, ketua tim riset, menyatakan bahwa “pemanfaatan energi matahari dalam proses daur ulang plastik membuka peluang besar bagi pengurangan sampah serta penyediaan bahan bakar alternatif yang lebih bersih.” Ia menambahkan bahwa skala pilot plant sudah direncanakan akan beroperasi pada akhir tahun ini di daerah Jawa Barat.
Jika teknologi ini dapat diimplementasikan secara luas, diperkirakan akan mengurangi beban penumpukan plastik di tempat pembuangan akhir sebesar 30 % dan sekaligus menyediakan sumber energi terbarukan untuk sektor transportasi dan industri.
Namun, tantangan utama yang masih harus diatasi meliputi kebutuhan akan fotokatalis yang tahan lama, pengoptimalan intensitas cahaya di wilayah bercurah hujan, serta regulasi yang mendukung penggunaan bahan bakar hasil daur ulang.
Dengan dukungan pemerintah dan sektor swasta, inovasi ini berpotensi menjadi langkah strategis dalam upaya Indonesia menuju ekonomi sirkular dan netralitas karbon.