Setapak Langkah – 30 April 2026 | Pada hari Selasa, terjadi tabrakan antara kereta api jarak jauh (KA) dan kereta komuter listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. Insiden tersebut menewaskan 15 orang dan melukai 91 orang lainnya, sehingga total korban mencapai 106 orang.
Pihak kepolisian dan Badan Penyelamat Nasional (Basarnas) segera melakukan evakuasi korban ke rumah sakit terdekat. Tim medis mengevakuasi korban luka berat ke RSUP Dr. Hasan Sadikin dan RS Harapan Bunda. Sementara korban dengan luka ringan dirawat di posko kesehatan di area stasiun.
Kerusakan infrastruktur meliputi rel, sistem sinyal, serta gerbong KRL dan KA yang mengalami keretakan signifikan. Karena itu, layanan KRL di jalur tersebut dihentikan total sejak pagi hari.
Rencana normalisasi layanan KRL akan dimulai setelah mendapatkan clearance dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Berikut langkah‑langkah utama yang akan dilaksanakan:
- Pemeriksaan menyeluruh oleh tim teknis KNKT untuk memastikan tidak ada bahaya tersisa.
- Perbaikan atau penggantian rel, sambungan sinyal, dan peralatan listrik yang rusak.
- Pengujian uji coba operasional secara bertahap pada jam-jam low‑traffic.
- Pembukaan layanan KRL secara bertahap, dimulai dari segmen yang paling aman.
- Monitoring berkelanjutan selama 48 jam pertama setelah layanan kembali beroperasi penuh.
Pihak PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menargetkan layanan kembali normal dalam dua hingga tiga hari kerja setelah clearance KNKT, dengan jadwal sementara yang akan diinformasikan melalui media sosial dan papan informasi stasiun.
Selain upaya perbaikan fisik, otoritas juga berjanji akan meningkatkan prosedur keselamatan, termasuk audit rutin pada sistem sinyal dan pelatihan ulang masinis serta petugas operasional.