Setapak Langkah – 28 April 2026 | Rocky Gerung tampil di Istana Negara pada Senin (tanggal) menyertai Menteri mantan napi, Jumhur Hidayat, ketika Presiden Prabowo Subianto mengumumkan perombakan kabinet terbaru. Kedatangan keduanya menjadi sorotan media karena keduanya dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Reshuffle yang dilansir dari sumber resmi meliputi penambahan dua menteri baru dan perubahan portofolio tiga kementerian. Penunjukan tersebut diharapkan memperkuat fokus pemerintah pada pertahanan, ekonomi digital, dan kebijakan sosial.
Dalam kesempatan itu, Rocky Gerung menyampaikan beberapa poin penting:
- Ia menegaskan pentingnya transparansi dalam proses seleksi pejabat publik, terutama bagi mereka yang memiliki rekam jejak kontroversial.
- Gerung menyoroti peran Menteri mantan napi sebagai simbol kesempatan kedua, namun mengingatkan bahwa integritas harus menjadi standar utama.
- Ia mengkritik pola ‘political patronage’ yang cenderung menempatkan loyalitas di atas kompetensi.
- Gerung juga menekankan bahwa reshuffle tidak boleh menjadi “jendela hijau” bagi pihak-pihak yang pernah terlibat dalam pelanggaran hukum.
Jumhur Hidayat, yang sendiri pernah menjalani hukuman penjara karena kasus korupsi, membela keputusan pemerintah dengan mengatakan bahwa rehabilitasi dan kontribusi kembali ke negara adalah bagian penting dari sistem keadilan Indonesia.
Para pengamat politik menilai bahwa kehadiran Rocky Gerung di acara tersebut menambah dimensi kritis terhadap proses politik saat ini. Sementara sebagian pihak memuji keberanian Gerung mengangkat isu integritas, yang lain menilai komentarnya terlalu keras dan dapat menimbulkan polarisasi.
Secara keseluruhan, reshuffle kabinet Prabowo dan pernyataan Rocky Gerung menandai babak baru dalam dinamika politik Indonesia, di mana pertanyaan tentang kualitas kepemimpinan dan akuntabilitas semakin mengemuka.