Setapak Langkah – 28 April 2026 | Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 27 April 2026, secara resmi melantik Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dalam upacara yang dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta. Penunjukan ini menandai peralihan jabatan dari Hanif Faisol kepada sosok yang dikenal luas di kalangan serikat pekerja dan aktivis lingkungan.
Jumhur Hidayat, lahir di Surabaya pada 12 Oktober 1972, menapaki kariernya sebagai buruh tambang batubara sebelum terjun ke dunia organisasi serikat pekerja. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Indonesia (SPI) dan aktif memimpin aksi-aksi demonstrasi menuntut hak-hak buruh, keamanan kerja, serta upah yang layak. Pengalaman tersebut memberinya reputasi sebagai negosiator ulung dan pembicara yang tegas dalam forum-forum nasional.
Selain aktivitas serikat, Jumhur juga terlibat dalam isu-isu lingkungan sejak awal 2000-an, khususnya terkait dampak penambangan terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat. Ia menjadi koordinator kampanye “Bumi Sehat, Pekerja Sejahtera” yang menuntut penerapan standar lingkungan yang lebih ketat di sektor pertambangan.
- Pendidikan: Sarjana Ekonomi dari Universitas Airlangga; Magister Manajemen Lingkungan dari Universitas Indonesia.
- Karier Serikat: Anggota Dewan Pimpinan Nasional SPI (2010‑2018); Ketua Koalisi Buruh Hijau (2019‑2023).
- Penghargaan: Penghargaan “Pejuang Lingkungan” dari WWF Indonesia (2022).
Dalam pidatonya saat dilantik, Jumhur menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan industri dan pelestarian alam. Ia berjanji akan memperkuat regulasi emisi, memperluas kawasan lindung, serta mendorong transisi energi bersih dengan melibatkan sektor usaha kecil menengah. “Kita tidak bisa memisahkan kesejahteraan pekerja dari keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Pemerintah Prabowo menganggap penunjukan ini sebagai langkah strategis untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan komitmen internasional Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Pengamat politik menilai bahwa profil Jumhur yang kuat di dunia buruh dapat membantu mengatasi resistensi industri terhadap kebijakan lingkungan yang lebih ketat.
Reaksi dari kalangan aktivis lingkungan beragam. Sebagian menyambut optimisme baru, sementara yang lain menunggu bukti konkret mengenai implementasi kebijakan. Di sisi lain, serikat pekerja menyambut baik penempatan seorang aktivis buruh di kabinet, mengharapkan perlindungan hak-hak pekerja di sektor energi dan pertambangan.
Kedepannya, Menteri Jumhur Hidayat akan menghadapi tantangan besar, antara lain menurunkan tingkat polusi udara di kota-kota besar, mengatasi deforestasi di wilayah Kalimantan dan Sumatra, serta mengatur limbah industri secara efektif. Kesuksesannya akan sangat bergantung pada kemampuan mengkoordinasikan lembaga pemerintah, sektor swasta, serta masyarakat sipil.