Setapak Langkah – 23 April 2026 | Lembaga riset dan advokasi SETARA Institute baru‑baru ini menerbitkan “Indeks Kota Toleran 2025”. Laporan tersebut menilai 514 kota di Indonesia berdasarkan indikator‑indikator seperti keberagaman agama, ras, dan suku, serta kebijakan inklusif pemerintah daerah.
Metodologi singkat
Indeks menggabungkan data survei persepsi warga, statistik kriminalitas kebencian, serta kebijakan publik yang mendukung kebebasan beragama dan hak minoritas. Setiap indikator diberi bobot tertentu, kemudian dirata‑rata untuk menghasilkan skor akhir antara 0‑100.
10 kota dengan skor tertinggi
- Yogyakarta (Skor: 92,6)
- Bandung (Skor: 90,8)
- Denpasar (Skor: 89,7)
- Semarang (Skor: 88,9)
- Surakarta (Skor: 88,3)
- Makassar (Skor: 87,5)
- Balikpapan (Skor: 86,9)
- Palembang (Skor: 86,2)
- Medan (Skor: 85,7)
- Padang (Skor: 85,1)
Analisis faktor keberhasilan
Kebanyakan kota dalam daftar tersebut memiliki tradisi keragaman budaya yang kuat dan kebijakan pemerintah daerah yang pro‑aktif dalam mengatasi konflik sektarian. Misalnya, Yogyakarta menonjolkan kebijakan “kota ramah agama” yang melibatkan tokoh agama dalam perencanaan program sosial. Bandung, selain menjadi pusat pendidikan, juga menggelar program dialog lintas‑agama secara rutin.
Di sisi lain, kota‑kota seperti Jakarta dan Surabaya tidak masuk dalam daftar meski memiliki populasi besar. Hal ini disebabkan oleh skor yang relatif lebih rendah pada indikator keamanan warga minoritas dan tingkat insiden kebencian yang masih signifikan.
Implikasi bagi kebijakan nasional
Hasil indeks ini menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat program toleransi. Kota‑kota dengan skor tinggi dapat dijadikan model dalam penyusunan kebijakan inklusif, sementara kota dengan skor lebih rendah diharapkan meningkatkan upaya pencegahan konflik.
Dengan meningkatnya perhatian publik terhadap isu toleransi, diharapkan lebih banyak daerah akan mengimplementasikan langkah‑langkah konkret, sehingga Indonesia dapat terus memperkokoh fondasi keberagaman sebagai kekuatan nasional.