Setapak Langkah – 22 April 2026 | Pakistan terus berupaya mengajak Iran untuk turut serta dalam putaran kedua perundingan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Tehran. Upaya tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Pakistan dalam sebuah konferensi pers pada Senin (22 April 2026), menegaskan bahwa Islamabad ingin menjadi fasilitator yang dapat mempercepat proses dialog.
Berikut beberapa poin penting yang disampaikan Menteri Luar Negeri Pakistan:
- Pakistan menawarkan peran mediasi yang netral, mengingat hubungan historis yang baik antara Islamabad dan Tehran.
- Negara tersebut menekankan pentingnya menghindari ketegangan di kawasan, terutama terkait dengan potensi konflik militer yang dapat mempengaruhi stabilitas regional.
- Pakistan mengingatkan bahwa keberhasilan putaran pertama, meski belum menghasilkan kesepakatan final, telah membuka ruang komunikasi yang lebih luas antara kedua belah pihak.
Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran bermula pada akhir 2025, setelah serangkaian sanksi ekonomi yang memberatkan Tehran. Putaran pertama fokus pada langkah-langkah penurunan sanksi sementara menunggu verifikasi program nuklir Iran. Namun, perbedaan utama tetap pada persyaratan inspeksi dan pembatasan teknologi sensitif.
Pakistani menilai bahwa keterlibatan Iran dalam putaran kedua akan memperkuat sinyal komitmen kedua negara terhadap dialog damai, serta memberi tekanan pada pihak Amerika untuk mempertimbangkan tawaran konsesi yang lebih realistis. Menurut Menteri Luar Negeri, “Kehadiran Iran dalam pertemuan lanjutan akan menegaskan bahwa semua pihak bersedia mencari solusi bersama, bukan sekadar memperpanjang konfrontasi.”
Jika Iran setuju untuk berpartisipasi, Pakistan siap menyediakan logistik dan tempat pertemuan yang aman, serta membantu menyiapkan agenda yang mencakup:
- Peninjauan kembali mekanisme inspeksi internasional.
- Diskusi mengenai fase penurunan sanksi bertahap.
- Pengaturan jalur komunikasi langsung antara pejabat senior kedua negara.
Pengamat geopolitik menilai langkah Pakistan sebagai upaya memperluas peran diplomatiknya di tengah persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan China di Asia Selatan. Keberhasilan inisiatif ini juga dapat meningkatkan reputasi Islamabad sebagai negara penengah yang dapat dipercaya.
Namun, tantangan tetap besar. Tehran masih menuntut penghapusan total sanksi dan jaminan keamanan yang memadai, sementara Washington menginginkan jaminan yang lebih ketat atas program nuklir Iran. Kedua belah pihak diperkirakan akan terus menguji batas kesabaran dalam putaran selanjutnya.