Setapak Langkah – 18 April 2026 | Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyatakan dukungan kuat terhadap keputusan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz setelah penutupan sementara. Guterres menilai langkah tersebut sebagai tindakan tepat yang dapat menstabilkan jalur laut penting bagi perdagangan global.
Penutupan Selat Hormuz pada awal tahun ini menimbulkan kekhawatiran di pasar energi dunia karena selat tersebut menjadi jalur transit utama bagi lebih dari tiga perempat minyak mentah yang diperdagangkan secara internasional. Selama penutupan, harga minyak naik tajam dan negara‑negara pengguna energi mengalami tekanan ekonomi.
Dengan terbukanya kembali selat, Guterres menekankan beberapa harapan:
- Pengamanan jalur pelayaran yang lebih konsisten, sehingga mengurangi risiko gangguan di masa depan.
- Stabilisasi harga komoditas energi, yang berdampak pada inflasi global.
- Peningkatan kepercayaan investor terhadap pasar energi dan sektor maritim.
Guterres juga mengingatkan pentingnya dialog diplomatik antara semua pihak yang terlibat, termasuk negara‑negara di kawasan Teluk Persia, untuk mencegah terulangnya tindakan yang dapat mengganggu arus perdagangan internasional. Ia menekankan bahwa penyelesaian sengketa melalui jalur damai lebih efektif daripada mengandalkan tekanan ekonomi atau militer.
Selain implikasi ekonomi, pembukaan Selat Hormuz dianggap sebagai sinyal positif bagi stabilitas geopolitik kawasan Timur Tengah. Iran sendiri menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil demi kepentingan bersama dan demi menjaga keamanan serta kelancaran perdagangan laut.
Pemerintah Indonesia, yang juga tergantung pada jalur ini untuk impor minyak, menyambut baik keputusan tersebut dan berharap kerjasama multinasional dapat terus memperkuat keamanan maritim di Selat Hormuz.