Setapak Langkah – 18 April 2026 | Pasar energi global mengalami penurunan tajam pada harga minyak mentah setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi sumber ketegangan geopolitik. Keputusan tersebut menurunkan persepsi risiko penawaran, memicu pergerakan bullish di bursa komoditas Amerika Serikat.
Kontrak berjangka WTI (West Texas Intermediate) di New York Mercantile Exchange mencatat kenaikan hingga 1,2% dan menembus level tertinggi baru dalam sejarah perdagangan harian, sementara harga Brent mencapai US$85,30 per barel. Lonjakan ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa stabilitas di kawasan Teluk Persia akan memperbaiki aliran suplai minyak dunia.
| Jenis | Harga (USD/barel) | Perubahan Harian |
|---|---|---|
| Brent | 85,30 | +1,2% |
| WTI | 80,75 | +1,2% |
| Dubai | 84,10 | +1,1% |
Pengaruh terbuka kembali Selat Hormuz tidak hanya terbatas pada harga spot, melainkan juga memengaruhi ekspektasi inflasi global. Karena minyak merupakan komoditas utama dalam rantai pasokan energi, penurunan volatilitas harga diproyeksikan menurunkan tekanan biaya produksi di sektor transportasi, manufaktur, dan logistik.
Para analis mencatat bahwa meskipun pasar merespons positif, risiko geopolitik tetap ada. Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, serta potensi sanksi tambahan, dapat kembali memicu fluktuasi harga. Oleh karena itu, pemantauan kebijakan OPEC+ dan laporan persediaan minyak dari American Petroleum Institute (API) tetap menjadi faktor kunci dalam pergerakan selanjutnya.
Secara keseluruhan, pembukaan Selat Hormuz menjadi sinyal damai yang mengurangi ketidakpastian pasokan, memberikan dorongan optimism pada investor. Jika kondisi ini bertahan, kemungkinan besar harga minyak akan bergerak dalam kisaran yang lebih stabil, mendukung pertumbuhan ekonomi global yang masih pulih dari dampak pandemi.