Setapak Langkah – 17 April 2026 | Sejumlah kelompok politik konservatif di Iran semakin menekan pemerintah untuk menolak Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan mempercepat program senjata nuklir. Kubu garis keras menilai bahwa ancaman militer dari Amerika Serikat dan Israel menuntut Iran memiliki kemampuan balasan yang setara.
Para tokoh konservatif menyoroti beberapa faktor utama yang mereka anggap memicu urgensi tersebut:
- Perluasan kehadiran militer Amerika di Timur Tengah, termasuk penempatan sistem pertahanan di negara-negara sekutu Israel.
- Sanksi ekonomi yang terus berlanjut, yang menurut mereka melemahkan kedaulatan nasional.
- Rasa frustrasi terhadap upaya diplomatik yang dianggap tidak menghasilkan jaminan keamanan.
Kubu tersebut juga mengkritik kebijakan internasional yang menilai program nuklir Iran sebagai ancaman, sambil menegaskan bahwa senjata nuklir adalah satu-satunya cara untuk menegakkan keseimbangan kekuatan. Mereka menuntut keputusan cepat dari Presiden dan Dewan Keamanan Nasional untuk mengesampingkan pembatasan NPT.
Di sisi lain, kalangan moderat dan reformis memperingatkan risiko geopolitik yang lebih besar jika Iran melangkah ke arah pengembangan senjata nuklir. Mereka menilai bahwa tindakan tersebut dapat memicu perlombaan senjata di kawasan dan memperburuk isolasi diplomatik Iran.
Ketegangan ini muncul bersamaan dengan laporan intelijen Barat yang menyatakan Iran tengah mempercepat proses produksi bahan fissil. Sementara itu, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa program nuklir damai tetap menjadi prioritas, namun tidak menutup kemungkinan pengembangan kemampuan militer jika keamanan nasional terancam.
Jika tekanan dari kubu garis keras berhasil, Iran dapat mengajukan permohonan keluar dari NPT dalam waktu dekat, yang berpotensi mengubah dinamika keamanan di Timur Tengah dan menambah beban diplomatik bagi negara-negara Barat.