Setapak Langkah – 15 April 2026 | JAKARTA – Di tengah retorika keras Uni Eropa terhadap Moskow setelah invasi Ukraina, pemerintah Hungaria tampak menempuh jalur yang berbeda. Di bawah pimpinan Perdana Menteri Viktor Orbán, Budapest semakin memperkuat hubungan ekonomi dan politik dengan Rusia, meski kebijakan tersebut menimbulkan ketegangan dengan sekutu‑sekutunya di UE.
Beberapa langkah yang menandai kedekatan tersebut antara lain:
- Peningkatan volume perdagangan energi, termasuk impor gas alam Rusia melalui proyek‑proyek yang dikoordinasikan secara bilateral.
- Kerjasama militer terbatas, seperti pelatihan bersama dan pembelian peralatan pertahanan dari Rusia.
- Penyesuaian kebijakan migrasi yang lebih bersahabat terhadap warga Rusia yang ingin menetap di Hungaria.
Sementara itu, institusi‑institusi Uni Eropa menilai langkah Hungaria sebagai ancaman terhadap kesatuan kebijakan luar negeri blok tersebut. Kritik muncul dari negara‑negara anggota yang menekankan pentingnya sikap tegas terhadap Moskow.
Jika kecenderungan ini berlanjut, UE berisiko mengalami fragmentasi kebijakan, di mana negara‑negara anggota dengan pandangan lebih lunak terhadap Rusia dapat membentuk koalisi terpisah. Hal ini dapat memperlemah posisi blok dalam negosiasi internasional dan mengurangi efektivitas sanksi yang diterapkan terhadap Rusia.
Para pengamat menilai bahwa keputusan Hungaria bukan sekadar pilihan ekonomi semata, melainkan juga strategi politik internal untuk memperkuat dukungan domestik bagi pemerintah Orbán. Namun, konsekuensi jangka panjangnya dapat menambah keretakan dalam proyek integrasi Eropa yang telah berjalan selama puluhan tahun.