Setapak Langkah – 04 April 2026 | Seorang siswa kelas XI SMK NU Miftahul Falah Kudus, Muhammad Rafif Arsya Maulidi, menolak menerima manfaat program MBG (Masyarakat Berpenghasilan Ganda) yang ditawarkan pemerintah. Penolakan tersebut dituangkan dalam surat terbuka yang kemudian direspon oleh organisasi JPPI (Jaringan Persatuan Pemuda Indonesia).
Surat tersebut menegaskan bahwa penerimaan MBG dianggap sebagai “tamparan” bagi pemerintah, karena menimbulkan kesan bahwa pemerintah harus menanggung beban tambahan tanpa mempertimbangkan kondisi riil para pelajar. Rafif menuliskan bahwa ia lebih memilih fokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan, alih‑alih mengandalkan bantuan finansial yang bersifat sementara.
Berikut beberapa poin utama yang disampaikan dalam surat tersebut:
- Penolakan tegas terhadap MBG sebagai solusi jangka panjang.
- Keprihatinan bahwa MBG dapat menurunkan motivasi belajar dan kerja keras.
- Permintaan agar pemerintah mengalokasikan dana untuk fasilitas pendidikan, beasiswa merit, dan program pelatihan vokasi.
- Harapan agar kebijakan sosial lebih terarah pada kelompok yang benar‑benar membutuhkan, bukan sekadar bantuan umum.
JPPI menanggapi dengan menyoroti pentingnya mendengarkan aspirasi generasi muda. Dalam pernyataannya, JPPI mengakui bahwa kebijakan sosial harus seimbang antara bantuan langsung dan investasi jangka panjang pada pendidikan serta pelatihan kerja.
| Aspek | Pernyataan Pelajar | Posisi JPPI |
|---|---|---|
| Manfaat MBG | Dianggap tamparan bagi pemerintah dan merendahkan motivasi belajar. | Mengakui kekhawatiran, namun menekankan perlunya kebijakan yang inklusif. |
| Prioritas Kebijakan | Fasilitas pendidikan, beasiswa merit, pelatihan vokasi. | Mendukung peningkatan kualitas pendidikan sebagai investasi masa depan. |
| Target Bantuan | Harus tepat sasaran, tidak sekadar bantuan umum. | Setuju, menekankan penilaian berbasis data. |
Penolakan Rafif dan dukungan JPPI menambah dinamika perdebatan tentang kebijakan sosial pemerintah. Sementara sebagian pihak melihat MBG sebagai upaya penanggulangan kemiskinan, suara mahasiswa seperti Rafif menuntut agar bantuan diarahkan pada peningkatan kompetensi dan daya saing generasi muda.
Ke depan, pihak terkait diharapkan dapat melakukan dialog terbuka dengan pelajar, organisasi pemuda, dan masyarakat luas untuk merumuskan kebijakan yang lebih responsif dan berkelanjutan.