Setapak Langkah – 11 Juni 2026 | Exxon Mobil mengeluarkan peringatan bahwa dalam skenario terburuk pasar energi, harga minyak mentah dapat melampaui US$160 per barel pada tahun 2026. Analisis perusahaan energi terbesar dunia ini menyoroti kombinasi faktor-faktor risiko yang dapat menekan pasokan sekaligus meningkatkan permintaan, sehingga menimbulkan lonjakan harga yang signifikan.
Beberapa faktor utama yang diidentifikasi meliputi:
- Penurunan cadangan minyak yang dapat dieksploitasi: Cadangan konvensional mulai menipis, sementara investasi pada eksplorasi baru belum mampu menutupi defisit produksi.
- Ketegangan geopolitik: Konflik di kawasan penghasil minyak seperti Timur Tengah dan Rusia dapat mengganggu aliran ekspor.
- Kebijakan energi transisi: Upaya global mengurangi ketergantungan pada fosil dapat menimbulkan ketidakseimbangan sementara antara permintaan dan pasokan.
- Peningkatan permintaan dari negara berkembang: Pertumbuhan ekonomi di Asia dan Afrika mempercepat konsumsi energi.
Jika semua faktor di atas terakumulasi, ekspektasi harga minyak dapat diproyeksikan sebagai berikut:
| Tahun | Harga Minyak (USD/barel) |
|---|---|
| 2023 | 84 |
| 2024 | 96 |
| 2025 | 124 |
| 2026 | >160 |
Lonjakan harga hingga level tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak luas, antara lain:
- Inflasi yang meningkat, terutama pada sektor transportasi dan industri.
- Kenaikan biaya produksi yang dapat memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
- Percepatan investasi pada energi terbarukan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.
- Ketidakstabilan pasar keuangan, dengan potensi penurunan nilai tukar mata uang negara pengimpor minyak.
- Tekanan politik bagi pemerintah untuk menyeimbangkan kebijakan energi dan keamanan pasokan.
Exxon menekankan pentingnya kebijakan yang proaktif, termasuk diversifikasi sumber energi, peningkatan efisiensi konsumsi, serta kerjasama internasional untuk menjaga kestabilan pasokan. Tanpa langkah-langkah tersebut, skenario terburuk dapat menjadi realitas yang menguji ketahanan ekonomi dunia.