Setapak Langkah – 07 Juli 2026 | Antonio Guterres, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa, menekankan pada hari Senin bahwa penyebaran teknologi Kecerdasan Buatan (AI) secara luas telah berubah menjadi semacam eksperimen publik yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Ia menyoroti bahwa kecepatan adopsi AI di sektor ekonomi, pemerintahan, dan kehidupan sehari-hari menimbulkan tantangan etika, keamanan, serta ketimpangan akses. Guterres mengingatkan bahwa tanpa kerangka regulasi yang jelas, potensi bahaya seperti penyalahgunaan data, diskriminasi algoritmik, dan peningkatan ketergantungan pada sistem otomatis dapat merugikan jutaan orang.
- AI harus dibangun dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
- Pemerintah dan lembaga internasional perlu berkolaborasi menyusun standar global.
- Pengembangan teknologi harus memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.
Dalam pidatonya, Sekjen PBB juga mengajak negara‑negara anggota untuk memperkuat kapasitas riset lokal, memastikan bahwa inovasi AI tidak hanya menguntungkan negara maju, melainkan memberikan manfaat yang merata bagi semua wilayah.
Guterres menutup dengan menegaskan bahwa komunitas internasional harus bertindak cepat untuk mengubah “eksperimen publik” menjadi ekosistem AI yang bertanggung jawab, sekaligus menjaga kebebasan inovasi tanpa mengorbankan hak asasi manusia.