Setapak Langkah – 05 Juli 2026 | Pasukan Satuan Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Yonif 511/DY kembali menorehkan jejak positif di wilayah Distrik Balingga, Papua Pegunungan. Tim satgas meluncurkan program pendidikan nonformal bagi anak‑anak Lanny Jaya dengan pendekatan kreatif yang memanfaatkan barang bekas sebagai media pembelajaran.
Program ini bertujuan menutup kesenjangan akses pendidikan formal di daerah terpencil sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu serta keterampilan praktis. Dengan mengubah limbah menjadi alat peraga, instruktur militer berhasil menciptakan suasana belajar yang interaktif dan menyenangkan.
- Penggunaan Botol Plastik: Dijadikan model sistem peredaran air untuk menjelaskan konsep sirkulasi dan pentingnya konservasi sumber daya.
- Kardus Bekas: Diolah menjadi papan tulis mini dan bahan bangunan sederhana, mengajarkan dasar‑dasar arsitektur serta kreativitas.
- Kawat dan Mur Besi: Dipakai sebagai alat peraga dalam pelajaran fisika dasar, memperkenalkan prinsip gaya dan tegangan.
- Kain Perca: Digunakan dalam pelajaran seni dan budaya untuk membuat kostum tradisional Lanny Jaya.
Selama sesi, anak‑anak diajak melakukan eksperimen sederhana, membuat kerajinan tangan, serta berdiskusi tentang pentingnya menjaga lingkungan. Para prajurit tidak hanya berperan sebagai pengajar, melainkan juga sebagai mentor yang menumbuhkan disiplin dan rasa tanggung jawab.
Keberhasilan inisiatif ini didukung oleh kolaborasi dengan tokoh masyarakat setempat dan lembaga non‑pemerintah yang menyediakan pelatihan tambahan bagi guru lokal. Evaluasi awal menunjukkan peningkatan partisipasi anak‑anak dalam kegiatan belajar serta peningkatan pemahaman materi dasar.
Dengan model pembelajaran berbasis barang bekas, Satgas Pamtas berharap dapat memperluas jangkauan program ke desa‑desa lain di Papua Pegunungan, sekaligus mencontohkan cara inovatif dalam mengoptimalkan sumber daya terbatas.