Setapak Langkah – 16 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada minggu ini, menandai tekanan berkelanjutan yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir pekan depan.
Penurunan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, antara lain ketegangan geopolitik di beberapa wilayah utama dunia serta penguatan mata uang dolar AS yang semakin kuat di pasar global.
Penguatan dolar memicu arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar dan menurunkan nilai tukar rupiah.
Berikut ini rangkuman singkat perkembangan nilai tukar rupiah dalam lima hari terakhir:
| Tanggal | USD/IDR |
|---|---|
| 22 Mei 2026 | Rp17.350 |
| 23 Mei 2026 | Rp17.420 |
| 24 Mei 2026 | Rp17.500 |
| 25 Mei 2026 | Rp17.560 |
| 26 Mei 2026 | Rp17.600 |
Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapan untuk melakukan intervensi pasar bila diperlukan, namun menekankan bahwa kebijakan moneter tetap berfokus pada stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Para analis memperkirakan tekanan pada rupiah belum akan mereda dalam beberapa hari ke depan, terutama jika gejolak geopolitik berlanjut dan dolar AS tetap kuat. Mereka menyarankan pelaku pasar untuk memantau kebijakan moneter AS serta perkembangan situasi politik internasional sebagai indikator utama pergerakan nilai tukar.
Secara domestik, faktor-faktor seperti defisit neraca berjalan, inflasi yang masih di atas target, serta permintaan barang impor yang tinggi turut menambah beban pada nilai tukar. Pemerintah diharapkan terus memperkuat cadangan devisa serta mengoptimalkan kebijakan fiskal untuk meredam volatilitas.