Setapak Langkah – 05 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi melemah 17 poin atau sekitar 0,09 persen, mencatat Rp18.066 per dolar AS. Penurunan ini dipicu oleh data Indeks Produksi Industri (NPI) yang dirilis lebih dulu, menunjukkan pertumbuhan di bawah perkiraan analis.
Data NPI mencatat pertumbuhan 0,2 persen dibandingkan bulan sebelumnya, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,5 persen. Kelemahan sektor manufaktur dan penurunan permintaan ekspor menjadi penyebab utama penurunan tersebut.
Berikut beberapa faktor yang memperparah tekanan pada rupiah:
- Data NPI yang kurang kuat menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
- Sentimen investor global yang masih berhati-hati terhadap aset berisiko, terutama di pasar emerging.
- Bank Indonesia belum mengumumkan kebijakan suku bunga yang dapat menstabilkan nilai tukar.
Bank Indonesia (BI) menanggapi dengan menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan. Namun, BI juga mengingat perlunya perbaikan fundamental ekonomi, termasuk penurunan inflasi dan peningkatan ekspor.
Para analis memperkirakan bahwa jika data ekonomi selanjutnya tetap lemah, tekanan jual pada rupiah dapat berlanjut, memicu fluktuasi lebih besar di pasar valuta asing. Sebaliknya, perbaikan data NPI atau kebijakan moneter yang lebih ketat dapat membantu mengembalikan kepercayaan investor.