Setapak Langkah – 12 Juli 2026 | Penampilan Lionel Messi di Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan utama setelah ia memimpin Argentina hingga ke babak final. Namun, sorotan tidak hanya pada gol dan assist, melainkan pada peran barunya sebagai eksekutor penalti yang menimbulkan perdebatan panas di antara pelatih, pundit, dan penggemar.
Sejak turnamen dimulai, Messi mencatat tiga tendangan penalti: dua berhasil dan satu gagal. Keberhasilan tersebut tampak memberikan kepercayaan diri, namun kegagalan pada laga perempat final melahirkan apa yang kini disebut “rapor merah” – catatan negatif yang menilai efektivitasnya sebagai algojo penalti.
Berikut rangkuman kinerja Messi dalam situasi bola mati:
- Jumlah tendangan penalti: 3
- Gol dari penalti: 2 (66,7%)
- Kegagalan kritis: 1 (melawan Brazil, menit ke‑78 perempat final)
- Rata‑rata tembakan: 23,4 meter
- Teknik tembakan: tendangan kaki kanan dengan sudut 30‑35 derajat
Para analis menyoroti beberapa faktor yang memicu keraguan:
- Tekanan psikologis pada laga penting, yang tampak memengaruhi kestabilan tembakan.
- Pola pertahanan lawan yang menyesuaikan diri dengan kebiasaan Messi, memaksa perubahan sudut tembakan.
- Kondisi fisik Messi yang mulai menua, mengurangi kecepatan eksekusi.
Di sisi lain, ada argumen yang mendukung keberlanjutan peran penalti Messi:
- Pengalaman internasional yang tak tertandingi.
- Rekor gol dari penalti di kompetisi besar sebelumnya.
- Kemampuan membaca arah penjaga gawang.
Keputusan akhir mengenai apakah Argentina harus mencabut tugas penalti dari Messi masih menjadi perdebatan internal tim. Pelatih Lionel Scaloni menyatakan bahwa evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh setelah turnamen, mengingat pentingnya keseimbangan antara kepercayaan pemain senior dan peluang munculnya eksekutor baru.
Apapun keputusan yang diambil, rapor merah Messi menjadi pelajaran penting tentang dinamika peran pemain bintang dalam situasi tekanan tinggi, dan menambah warna dalam narasi perjalanan Argentina di Piala Dunia 2026.