Setapak Langkah – 28 Mei 2026 | Pada musim Idul Adha, warga kota Palu memperlihatkan inovasi ramah lingkungan dengan memanfaatkan kamboti, sebuah keranjang tradisional yang terbuat dari daun silar, untuk mengemas daging kurban. Praktik ini tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga mengurangi penggunaan plastik dan bahan kemasan sekali pakai yang biasanya menambah beban sampah di wilayah tersebut.
Kamboti telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Palu, terutama dalam kegiatan pasar tradisional. Karena sifatnya yang kuat, tahan lama, dan dapat terurai secara alami, daun silar dipilih sebagai bahan utama pembuatan keranjang ini. Selama proses penyembelihan hewan kurban, petugas Dinas Lingkungan setempat menata daging yang telah dibersihkan ke dalam kamboti sebelum didistribusikan ke warga.
Beberapa manfaat utama penggunaan kamboti dalam konteks kurban meliputi:
- Pengurangan sampah plastik: Tanpa kemasan plastik, volume sampah yang harus dikelola berkurang signifikan.
- Keberlanjutan sumber daya: Daun silar dapat dipanen secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem hutan.
- Pemeliharaan warisan budaya: Menghidupkan kembali teknik anyaman tradisional yang hampir punah.
- Biaya lebih rendah: Bahan baku lokal biasanya lebih murah dibandingkan bahan impor atau plastik.
Selain manfaat lingkungan, penggunaan kamboti juga memperkuat rasa kebersamaan di antara warga. Pada hari pelaksanaan kurban, sukarelawan dari berbagai RT berkumpul untuk membantu menyiapkan, mengemas, dan menyalurkan daging kepada yang membutuhkan. Kegiatan ini menjadi contoh nyata sinergi antara nilai keagamaan dan kepedulian terhadap alam.
Pihak Dinas Lingkungan Kota Palu mencatat bahwa sejak penerapan program ini, tingkat sampah organik yang terbuang meningkat, sementara tingkat pencemaran mikroplastik di sungai-sungai sekitar menurun. Pemerintah daerah berencana memperluas program ini ke sektor lain, seperti pasar tradisional dan festival budaya, guna menciptakan ekosistem kota yang lebih hijau.
Dengan menggabungkan tradisi lokal, nilai keagamaan, dan kepedulian lingkungan, warga Palu menunjukkan bahwa solusi sederhana dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan kota.