Setapak Langkah – 17 Mei 2026 | Masyarakat Nganjuk menyambut hangat kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang secara resmi meresmikan Museum Marsinah di kota tersebut. Upacara pembukaan berlangsung di halaman utama museum dengan dihadiri tokoh‑tokoh pemerintah daerah, serikat buruh, serta para aktivis dan warga setempat.
Museum ini didirikan sebagai penghormatan kepada Marsinah, seorang aktivis buruh legendaris yang menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan tenaga kerja pada awal 1990‑an. Marsinah tewas pada tahun 1993 setelah dipaksa mengungkapkan kondisi kerja di sebuah pabrik, dan kasusnya menjadi sorotan internasional tentang pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya mengenang perjuangan Marsinah sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran hak buruh dan keadilan sosial. Ia menyatakan, “Kita harus terus menjaga warisan perjuangan para pahlawan tenaga kerja, agar generasi mendatang tidak melupakan nilai‑nilai keadilan dan solidaritas yang telah diperjuangkan oleh mereka.”
Pengunjung museum akan menemukan rangkaian pameran yang meliputi:
- Dokumentasi foto dan video arsip yang menggambarkan aksi‑aksi buruh pada era 1990‑an.
- Biografi singkat Marsinah beserta kronologi peristiwa yang menimpa dirinya.
- Perlengkapan kerja dan simbol-simbol perjuangan yang dipinjam dari serikat buruh lokal.
- Ruang interaktif yang memungkinkan pengunjung menuliskan harapan mereka untuk masa depan dunia kerja.
Reaksi warga Nganjuk sangat positif; banyak yang menyatakan kebanggaan dapat memiliki tempat yang mengabadikan kisah pahlawan lokal. Mereka berharap museum ini tidak hanya menjadi tujuan wisata edukatif, tetapi juga menjadi pusat dialog dan pelatihan bagi pekerja muda.
Ke depan, pengelola museum berencana mengadakan program pelatihan hak buruh, seminar sejarah kerja, serta kolaborasi dengan institusi pendidikan untuk memperluas dampak sosial museum. Dengan adanya Museum Marsinah, diharapkan nilai‑nilai perjuangan Marsinah dapat terus menginspirasi dan menjadi pijakan kuat dalam memperjuangkan hak‑hak tenaga kerja di Indonesia.