Setapak Langkah – 01 Agustus 2026 | World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa permintaan emas dunia pada enam bulan pertama 2026 meningkat 2% menjadi 2.522 ton, menandai level tertinggi sejak awal tahun 2022. Lonjakan ini dipicu oleh kebijakan pembelian bank sentral yang agresif serta minat investasi yang kuat dari negara‑negara Asia.
Berikut rincian utama laporan WGC:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Permintaan emas global (semester I 2026) | 2.522 ton |
| Pertumbuhan dibandingkan semester I 2025 | +2% |
| Pembelian bank sentral | ~1.2 ton (48% total) |
| Investasi ritel & institusi | ~1.3 ton (52% total) |
Faktor pendorong utama meliputi:
- Pembelian bank sentral: Bank-bank sentral di Asia, terutama di Cina, India, dan Turki, meningkatkan cadangan emas untuk mengurangi risiko nilai tukar dan inflasi.
- Investasi Asia: Investor ritel dan institusi di wilayah Asia Tenggara dan Jepang menunjukkan minat yang tinggi terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai.
- Kondisi pasar global: Ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter yang ketat di Amerika Serikat menambah daya tarik emas.
Implikasi ekonomi dari peningkatan permintaan ini dapat dirasakan pada beberapa sektor:
- Harga emas diprediksi akan tetap berada pada level tinggi, memperkuat posisi logam mulia sebagai alternatif investasi.
- Produsen tambang emas dapat mengalami peningkatan margin keuntungan, terutama bagi perusahaan yang mengoperasikan tambang di Afrika dan Amerika Latin.
- Kebijakan moneter bank sentral yang menambah cadangan emas dapat menurunkan volatilitas nilai tukar mata uang emergen.
WGC menekankan bahwa tren kenaikan permintaan emas kemungkinan akan berlanjut sepanjang 2026, seiring dengan tekanan inflasi dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi. Pengamat pasar menyarankan investor untuk memperhatikan dinamika kebijakan bank sentral serta perkembangan ekonomi Asia sebagai indikator utama pergerakan harga emas ke depan.