Setapak Langkah – 14 Juni 2026 | Bank Indonesia (BI) dan Bank Sentral China (PBOC) baru‑baru ini menandatangani kesepakatan kerja sama yang menekankan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral, khususnya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi rupiah serta yuan di pasar regional, sekaligus menambah likuiditas dan menurunkan biaya konversi bagi pelaku usaha.
Beberapa poin utama dalam kerja sama meliputi:
- Peningkatan infrastruktur pembayaran lintas batas berbasis teknologi digital.
- Pengembangan jaringan clearing yang memfasilitasi transaksi dalam rupiah dan yuan.
- Berbagi data pasar untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
Dengan memperluas penggunaan mata uang lokal, kedua bank sentral berupaya menstabilkan nilai tukar di tengah volatilitas pasar global dan tekanan inflasi. Kebijakan ini juga sejalan dengan agenda regional untuk mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan internasional.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa inisiatif ini dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia, karena produsen tidak perlu menanggung risiko fluktuasi nilai tukar dolar yang tinggi. Di sisi lain, China memperoleh peluang untuk memperluas penggunaan yuan di kawasan Asia Tenggara.
Secara jangka panjang, kerja sama ini diharapkan memperkuat jaringan keuangan regional, memperlancar aliran modal, dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.