Setapak Langkah – 02 Juni 2026 | Pemerintah Indonesia terus meningkatkan pertahanan siber nasional menyusul peningkatan signifikan jumlah serangan siber yang menargetkan lembaga publik dan infrastruktur kritis.
Data yang dirilis oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan bahwa sejak awal tahun 2024, jumlah insiden siber naik sekitar 45 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Serangan paling sering melibatkan ransomware, phishing, dan upaya pembobolan jaringan.
- Peningkatan anggaran keamanan siber sebesar 30 % untuk tahun anggaran 2025.
- Pembentukan Pusat Operasi Keamanan Siber (Poks) yang berfungsi 24/7.
- Kerjasama intensif dengan penyedia layanan internet, perusahaan telekomunikasi, dan sektor swasta.
- Program pelatihan cyber untuk 10.000 pegawai negeri dalam dua tahun ke depan.
- Penerapan kerangka kerja standar internasional ISO/IEC 27001 pada semua sistem pemerintahan.
Berikut gambaran singkat jenis serangan yang paling banyak terjadi pada kuartal pertama 2024:
| Jenis Serangan | Jumlah Insiden |
|---|---|
| Ransomware | 1,230 |
| Phishing | 2,045 |
| Distributed Denial of Service (DDoS) | 860 |
| Malware lainnya | 1,110 |
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan deteksi dini, respons cepat, serta mitigasi dampak serangan siber. Pemerintah juga menekankan pentingnya kesadaran digital di kalangan masyarakat dan bisnis, dengan meluncurkan kampanye edukasi nasional mengenai praktik keamanan daring yang baik.
Dengan upaya terpadu antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, diharapkan Indonesia dapat menurunkan risiko serangan siber dan melindungi data serta layanan publik yang semakin bergantung pada teknologi digital.