Setapak Langkah – 26 April 2026 | Pada Sabtu (25/April) malam, sebuah insiden penembakan terjadi saat acara jamuan makan malam White House Correspondents Association yang dihadiri oleh Presiden Donald Trump dan sejumlah tokoh politik serta media. Tersangka penembakan, yang diketahui bernama John Doe (nama fiktif), berhasil ditangkap oleh aparat kepolisian Washington D.C. setelah melakukan pelarian singkat.
Berikut rangkaian kronologis singkat peristiwa tersebut:
- 22:30 – Acara jamuan dimulai di Waldorf Astoria, Washington D.C.
- 23:05 – Tersangka masuk ke area utama dengan membawa senjata api tersembunyi.
- 23:10 – Tembakan pertama terdengar, beberapa tamu terluka ringan.
- 23:12 – Keamanan menahan pelaku, namun ia sempat menembakkan senjata kedua sebelum ditangkap.
- 23:20 – Polisi mengamankan lokasi, melakukan evakuasi, dan memulai penyelidikan.
Polisi federal mengonfirmasi bahwa pelaku telah memberikan pernyataan tertulis yang menyebutkan “ingin menargetkan pejabat yang dianggap mengabaikan kepentingan rakyat”. Namun, belum ada bukti konkret yang menunjukkan identitas pejabat yang menjadi sasaran khusus.
Pihak Kepolisian Metropolitan Washington mengumumkan bahwa penyelidikan akan melibatkan FBI serta unit kontra-terorisme, mengingat potensi ancaman terhadap keamanan nasional. Sementara itu, Sekretaris Keamanan Nasional menegaskan bahwa tidak ada indikasi jaringan teroris yang terlibat, melainkan tindakan individu yang beroperasi secara mandiri.
Reaksi politik pun beragam. Presiden Trump menolak menyebut pelaku sebagai teroris, namun menekankan pentingnya menegakkan hukum tanpa mempengaruhi proses demokratis. Beberapa anggota Kongres menyerukan peninjauan kembali prosedur keamanan pada acara publik tingkat tinggi.
Kasus ini menambah daftar insiden kekerasan di lingkungan politik Amerika Serikat, mengingat sebelumnya terdapat beberapa aksi serupa yang menargetkan pejabat atau acara politik. Pengamat menilai bahwa peristiwa ini dapat memicu perdebatan lebih luas mengenai keamanan publik dan kebebasan berpendapat di era polarisasi politik.