Setapak Langkah – 31 Mei 2026 | Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menekankan pentingnya acara International Java Jazz Festival 2026 sebagai platform strategis untuk memperkuat nilai ekonomi kreatif (ekraf) di Indonesia. Menurutnya, festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan musik, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara musisi, pelaku industri, dan pemerintah untuk menciptakan sinergi yang mendorong pertumbuhan sektor kreatif.
Beberapa poin utama yang disampaikan Menteri antara lain:
- Java Jazz sebagai katalisator pendapatan bagi musisi lokal melalui penjualan tiket, merchandise, dan hak cipta.
- Peluang kolaborasi antara artis Indonesia dengan musisi internasional yang dapat meningkatkan eksposur global.
- Pengembangan ekosistem pendukung, termasuk venue, produksi, serta teknologi audio‑visual yang berbasis di dalam negeri.
- Peran pemerintah dalam menyediakan insentif fiskal dan regulasi yang memudahkan pelaku ekraf.
Selain aspek ekonomi, Java Jazz 2026 diharapkan menjadi wadah edukasi bagi generasi muda. Workshop, masterclass, dan panel diskusi akan diadakan secara paralel dengan konser utama, memberikan akses pengetahuan tentang manajemen karier, hak kekayaan intelektual, dan pemasaran digital.
Data perkiraan dampak ekonomi festival mencakup:
| Aspek | Perkiraan Nilai |
|---|---|
| Pendapatan tiket | Rp 150 miliar |
| Pengeluaran wisatawan | Rp 200 miliar |
| Pekerjaan sementara | 3.500 orang |
Dengan mengintegrasikan elemen hiburan, edukasi, dan bisnis, Java Jazz 2026 diharapkan menjadi model bagi festival lain di Indonesia dalam mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif. Menteri menutup dengan harapan semua pihak dapat bersinergi untuk menjadikan musik tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.