Setapak Langkah – 04 Mei 2026 | JAKARTA, ANTARA – Pada Minggu, 3 Mei 2024, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti secara resmi meresmikan Pesantren Eco‑Saintek, sebuah inisiatif baru yang menggabungkan pendidikan pesantren tradisional dengan pendekatan sains‑teknologi berwawasan lingkungan.
Acara yang dilaksanakan di Kompleks Pesantren Al‑Hikmah, Bogor, dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, tokoh pesantren, serta perwakilan lembaga lingkungan hidup. Dalam sambutannya, Mendikdasmen menekankan pentingnya integrasi nilai religius dengan ilmu pengetahuan modern untuk membentuk generasi yang sadar akan tantangan perubahan iklim.
Berikut poin‑poin utama yang menjadi ciri khas Pesantren Eco‑Saintek:
- Kur kurikulum berbasis sains‑teknologi: Mata pelajaran seperti bioteknologi, energi terbarukan, dan agroforestry diintegrasikan ke dalam program belajar harian.
- Praktik ramah lingkungan: Siswa terlibat dalam proyek penanaman pohon, pengolahan limbah organik menjadi kompos, serta pembangunan panel surya mini untuk kebutuhan listrik pesantren.
- Pembelajaran berbasis nilai keagamaan: Nilai kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab diajarkan melalui kajian Al‑Qur’an yang dikaitkan dengan prinsip keberlanjutan alam.
- Kerjasama lintas sektor: Pesantren bekerja sama dengan universitas, lembaga riset, dan industri hijau untuk menyediakan fasilitas laboratorium dan mentor praktis.
- Evaluasi berkelanjutan: Sistem penilaian mencakup indikator lingkungan seperti jejak karbon, serta capaian akademik tradisional.
Abdul Mu’ti menambahkan, “Model Eco‑Saintek ini diharapkan menjadi contoh bagi seluruh pesantren di Indonesia. Pendidikan tidak boleh terpisah dari tantangan lingkungan yang semakin mendesak. Dengan menanamkan ilmu pengetahuan serta nilai religius, kita dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bertanggung jawab terhadap bumi.”
Selain itu, Menteri menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung replikasi model ini melalui alokasi dana khusus pada Kementerian Pendidikan serta pemberian insentif bagi pesantren yang berhasil menerapkan standar ramah lingkungan.
Para santri yang mengikuti program pertama melaporkan peningkatan pemahaman tentang energi bersih dan pengelolaan sumber daya alam. Salah satu santri, Ahmad Fauzi, menyatakan, “Saya dulu hanya belajar kitab kuning, kini saya juga belajar cara membuat pupuk organik dari limbah dapur. Ini membuat saya merasa lebih berguna bagi lingkungan sekitar.”
Keberhasilan peluncuran Pesantren Eco‑Saintek menjadi sinyal kuat bahwa pendidikan Indonesia semakin mengedepankan integrasi antara tradisi, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan. Jika model ini berhasil diperluas, dampaknya dapat dirasakan tidak hanya pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga pada upaya nasional dalam menurunkan emisi karbon dan menjaga kelestarian alam.