Setapak Langkah – 24 Juni 2026 | Pemerintah mengeluarkan Surat Edaran Kepala BGN Nomor 12 Tahun 2026 yang menghentikan layanan MBG (Manajemen Bencana Gempa) baik untuk peserta didik maupun non‑peserta didik. Keputusan ini diumumkan pada 18 Juni 2026 oleh Republika.co.id, dan menimbulkan dampak signifikan pada jadwal belajar mengajar di sejumlah sekolah.
Akibat penghentian MBG, banyak institusi pendidikan memutuskan untuk menunda atau menutup sementara kegiatan belajar. Libur sekolah yang tiba‑tiba menimbulkan tantangan logistik, terutama bagi siswa yang bergantung pada layanan MBG untuk keamanan dan mitigasi risiko bencana.
Penghentian layanan ini menyoroti pentingnya manajemen risiko yang terintegrasi dalam sistem pendidikan. Tanpa dukungan MBG, sekolah harus mengadopsi pendekatan alternatif untuk melindungi siswa, staf, dan fasilitas dari potensi bencana alam.
Berikut beberapa langkah utama yang dapat diambil oleh pihak sekolah untuk memperkuat manajemen risiko setelah penghentian MBG:
- Evaluasi risiko lokal: Lakukan survei menyeluruh terhadap potensi bahaya di lingkungan sekitar, termasuk gempa, banjir, dan kebakaran.
- Penyusunan rencana evakuasi: Buat protokol evakuasi yang jelas, melibatkan semua pihak – guru, staf, siswa, dan orang tua.
- Pelatihan berkala: Selenggarakan latihan darurat secara rutin agar semua pihak terbiasa dengan prosedur keselamatan.
- Pengadaan peralatan darurat: Pastikan tersedia alat pemadam kebakaran, kotak P3K, dan perlengkapan evakuasi yang terawat.
- Komunikasi efektif: Bangun jaringan informasi cepat antara sekolah, dinas pendidikan, dan badan penanggulangan bencana setempat.
Selain langkah operasional, diperlukan dukungan kebijakan yang konsisten. Pemerintah daerah dan kementerian terkait harus menyediakan anggaran khusus untuk program manajemen risiko di sektor pendidikan, serta memastikan pelatihan tenaga pendidik yang memadai.
Implementasi manajemen risiko yang kuat tidak hanya melindungi nyawa, tetapi juga menjaga kelangsungan proses belajar mengajar. Dengan menyiapkan infrastruktur dan prosedur yang siap menghadapi bencana, sekolah dapat meminimalkan gangguan akademik dan memberikan rasa aman bagi seluruh komunitas pendidikan.