Setapak Langkah – 29 Juni 2026 | Rendahnya efektivitas pestisida dinotefuran di lapangan menjadi tantangan utama bagi petani, terutama karena senyawa tersebut mudah larut oleh air hujan dan terdegradasi oleh sinar ultraviolet.
Menanggapi permasalahan itu, sekelompok mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil merancang nanopestisida yang memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap kondisi cuaca ekstrim.
Inovasi Formulasi
Nanopestisida yang dikembangkan menggunakan partikel berukuran nano yang melapisi bahan aktif dinotefuran. Lapisan tersebut berfungsi sebagai pelindung fisik, sehingga:
- Mengurangi laju pelarutan oleh air hujan.
- Menurunkan degradasi akibat paparan sinar UV.
- Memungkinkan penyerapan yang lebih efisien oleh hama target.
Uji Laboratorium dan Lapangan
Tim melakukan serangkaian uji laboratorium, termasuk:
| Uji | Hasil |
|---|---|
| Stabilitas terhadap air | Penurunan degradasi 70% dibandingkan pestisida konvensional |
| Resistensi UV | Penurunan kehilangan aktivitas hingga 60% setelah 8 jam paparan |
| Efikasi terhadap hama | Mortabilitas hama tetap >90% setelah perlakuan |
Uji lapangan di beberapa lahan pertanian di Jawa Timur menunjukkan peningkatan hasil panen rata-rata 12% dibandingkan penggunaan pestisida standar.
Dampak dan Prospek
Dengan kemampuan bertahan lebih lama, petani dapat mengurangi frekuensi penyemprotan, menurunkan biaya operasional, serta meminimalkan residu kimia pada tanaman. Selain itu, formulasi nano yang ramah lingkungan membuka peluang komersialisasi produk pestisida yang lebih berkelanjutan.
Mahasiswa tim berharap dapat melanjutkan kerja sama dengan industri agritech untuk skala produksi massal serta melakukan registrasi resmi pada lembaga pengawas pertanian.