Setapak Langkah – 28 Juni 2026 | Gary Lineker, mantan striker Inggris dan presenter utama program sepak bola, baru-baru ini mengkritik keras keputusan FIFA terkait sanksi yang dijatuhkan kepada pemain Qatar, Assim Madibo.
Insiden terjadi pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Qatar dan Kanada, di mana Madibo melakukan tekel keras terhadap gelandang Kanada, Ismael Kone, yang menyebabkan cedera pada pemain tersebut. FIFA menilai tindakan tersebut melanggar aturan permainan keras dan menjatuhkan hukuman lima pertandingan serta denda finansial.
Lineker menilai hukuman tersebut “tidak masuk akal” karena ia berpendapat tekel tersebut tidak bersifat berbahaya secara signifikan dan tidak seharusnya dikenai sanksi setinggi itu. Ia menambahkan bahwa keputusan FIFA tampak tidak konsisten bila dibandingkan dengan kasus serupa yang mendapat hukuman lebih ringan.
- Hukuman FIFA: lima pertandingan suspensi + denda.
- Insiden: tekel terhadap Ismael Kone (Kanada) pada laga kualifikasi.
- Reaksi Madibo: meminta maaf dan menegaskan tidak ada niat melukai.
- Reaksi publik: beragam, ada yang mendukung FIFA, ada yang setuju dengan Lineker.
Beberapa analis menilai bahwa FIFA sedang berusaha menegakkan standar keamanan pemain yang lebih ketat, terutama menjelang turnamen besar. Namun, mereka juga mengakui adanya perbedaan interpretasi aturan yang dapat menimbulkan persepsi tidak adil.
Dalam pernyataannya, Lineker menyoroti pentingnya transparansi dalam proses peninjauan keputusan disiplin. Ia mengusulkan agar FIFA memperjelas kriteria hukuman, sehingga pemain dan publik dapat memahami mengapa suatu tindakan dikenai sanksi tertentu.
Kasus ini menambah deretan kontroversi yang melibatkan badan sepak bola dunia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk keputusan terkait VAR dan penegakan aturan kebugaran. Sementara itu, tim Qatar harus menyesuaikan strategi mereka tanpa kehadiran Madibo selama lima pertandingan mendatang.
Bagaimana FIFA akan menanggapi kritik Lineker masih menjadi pertanyaan. Keputusan selanjutnya dapat memengaruhi persepsi legitimasi otoritas disiplin FIFA di mata pemain, pelatih, dan penggemar sepak bola internasional.