Setapak Langkah – 13 Agustus 2026 | JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenhut) pada hari ini meluncurkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera, sebuah inisiatif komprehensif yang bertujuan memperkuat perlindungan dan pemulihan populasi gajah di Indonesia.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) merupakan subspesies yang paling terancam punah di dunia. Menurut data resmi Kementerian, populasi gajah di Pulau Sumatra menurun dari sekitar 2.000 ekor pada akhir 1990-an menjadi kurang dari 1.200 ekor pada 2023. Penurunan ini dipicu oleh kehilangan habitat, konflik manusia–satwa, serta perburuan ilegal untuk gading.
Tujuan utama SRAK
- Menjaga dan memulihkan habitat alami seluas lebih dari 6 juta hektar.
- Mengurangi angka pembunuhan gajah melalui peningkatan patroli anti–poaching.
- Mengintegrasikan masyarakat lokal dalam program konservasi berbasis manfaat ekonomi.
- Meningkatkan pemantauan populasi dengan teknologi satelit dan kamera jebakan.
- Menjamin keberlanjutan pendanaan melalui skema pembayaran jasa lingkungan (PJS).
Komponen strategis
Strategi ini dibagi menjadi tiga fase selama lima tahun ke depan:
- Fase Persiapan (2024–2025): Penyusunan peta prioritas habitat, pelatihan aparat penegak hukum, dan pembentukan tim kerja lintas sektoral.
- Fase Implementasi (2026–2028): Penanaman kembali kawasan hutan yang terdegradasi, pembentukan koridor satwa, serta pelaksanaan program edukasi bagi warga sekitar.
- Fase Evaluasi (2029–2030): Audit independen, penyesuaian rencana aksi, dan pelaporan publik tahunan.
Data populasi gajah Sumatera
| Tahun | Perkiraan Jumlah |
|---|---|
| 1998 | ~2.000 ekor |
| 2008 | ~1.600 ekor |
| 2018 | ~1.300 ekor |
| 2023 | ~1.150 ekor |
Raja Juli Antoni, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menegaskan bahwa “tanpa upaya terkoordinasi, gajah Sumatera dapat menghilang dari lanskap alam Indonesia dalam satu generasi”. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan LSM, akademisi, serta sektor swasta untuk menggalang sumber daya dan keahlian.
Selain tindakan penegakan hukum, SRAK menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar taman nasional melalui ekowisata, pertanian berkelanjutan, dan program kompensasi kerusakan tanaman. Dengan mengubah konflik menjadi peluang, diharapkan masyarakat dapat menjadi mitra aktif dalam menjaga satwa ikonik ini.
Peluncuran SRAK Gajah Sumatera diharapkan menjadi titik balik dalam upaya konservasi nasional, sekaligus memberi sinyal kuat kepada komunitas internasional bahwa Indonesia berkomitmen melindungi keanekaragaman hayatinya.