Setapak Langkah – 20 April 2026 | Direktur Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan, mengungkapkan bahwa sekitar enam puluh persen anak di Indonesia belum dapat menikmati makanan bergizi dan susu secara rutin. Data ini menyoroti kesenjangan gizi yang masih meluas di tengah upaya pemerintah meningkatkan status gizi bangsa.
- 60% anak tidak mendapatkan makanan bergizi setiap hari.
- Hanya 40% anak yang rutin mengonsumsi susu, padahal susu merupakan sumber kalsium dan protein penting.
- Orang tua dengan pendidikan rendah cenderung kurang menyadari kebutuhan gizi anak.
Berbagai daerah menunjukkan variasi yang signifikan. Misalnya, provinsi Jawa Barat melaporkan tingkat akses makanan bergizi sebesar 55%, sedangkan di Provinsi Papua baru mencapai 30%. Perbedaan ini dipengaruhi oleh tingkat kemiskinan, ketersediaan pasar, dan program edukasi gizi lokal.
| Provinsi | Akses Makan Bergizi | Akses Susu |
|---|---|---|
| Jawa Barat | 55% | 45% |
| Jawa Tengah | 48% | 38% |
| Papua | 30% | 20% |
BGN menekankan perlunya langkah terpadu untuk mengatasi permasalahan ini. Antara lain, meningkatkan kualitas pendidikan orang tua, memperluas program bantuan pangan, serta mempromosikan konsumsi susu melalui subsidi atau kampanye kesehatan.
Selain itu, Dadan mengajak pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta untuk berkolaborasi dalam penyediaan pangan bergizi yang terjangkau, khususnya di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Upaya bersama diharapkan dapat menurunkan angka anak yang mengalami kekurangan gizi dalam jangka panjang.