Setapak Langkah – 03 Agustus 2026 | Berhenti merokok memang terasa menantang bagi banyak orang. Dokter menjelaskan bahwa ketergantungan nikotin tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga membentuk pola kebiasaan di otak yang sulit diubah.
Berikut beberapa faktor utama yang membuat proses berhenti menjadi sulit:
- Ketergantungan kimiawi: Nikotin merangsang pelepasan dopamin, neurotransmitter yang memberi sensasi puas. Setelah tubuh terbiasa, tingkat dopamin menurun bila tidak ada nikotin, menimbulkan gejala putus zat.
- Polanya kebiasaan: Merokok sering dipadukan dengan aktivitas tertentu seperti minum kopi, bersosialisasi, atau stres. Otak mengasosiasikan situasi tersebut dengan rokok, sehingga pemicu psikologis terus muncul.
- Gejala penarikan: Kegelisahan, mudah marah, insomnia, dan nafsu makan meningkat menjadi penghalang kuat bagi yang ingin berhenti.
Untuk mengatasi hal‑hal tersebut, dokter merekomendasikan kombinasi pendekatan medis dan perilaku:
- Terapi Penggantian Nikotin (NRT) seperti permen karet, lozeng, atau plester yang memberikan dosis nikotin lebih rendah secara bertahap.
- Obat resep seperti bupropion atau vareniklin yang dapat mengurangi keinginan merokok dan mengatasi gejala putus zat.
- Konseling atau program pendampingan medis yang membantu mengidentifikasi pemicu pribadi dan mengembangkan strategi coping.
- Latihan relaksasi, olahraga ringan, dan perubahan rutinitas untuk mengalihkan kebiasaan merokok.
Pentingnya dukungan sosial juga tidak boleh diabaikan. Bergabung dengan kelompok berhenti merokok atau melibatkan keluarga dapat meningkatkan motivasi dan memberikan akuntabilitas.
Dengan memahami mekanisme ketergantungan dan memanfaatkan terapi yang tepat, peluang untuk berhasil berhenti merokok akan meningkat secara signifikan.