Setapak Langkah – 21 Juni 2026 | Pasokan batu bara yang menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik negara mengalami penurunan signifikan, memicu pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah. Menurut data internal PLN, ketersediaan batu bara pada kuartal pertama tahun ini turun sekitar 15% dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Penurunan tersebut berdampak langsung pada kemampuan pembangkit untuk menghasilkan listrik secara optimal, sehingga PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terpaksa mengimplementasikan pemadaman bergilir untuk menyeimbangkan beban jaringan. Konsumen di daerah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan melaporkan pemadaman yang berlangsung selama 2 hingga 4 jam pada jam-jam sibuk.
- Penurunan pasokan batu bara: -15% dari target
- Pemadaman bergilir: rata-rata 3 jam per hari
- Wilayah terdampak: Jawa, Sumatera, Kalimantan
Di sidang komisi DPR, anggota DPR menyoroti pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyatakan bahwa pasokan listrik nasional masih dalam kondisi aman. Kritik muncul karena pernyataan tersebut dianggap tidak mencerminkan realitas di lapangan, mengingat banyak daerah telah merasakan langsung pemadaman.
Anggota komisi energi DPR menanyakan langkah konkret pemerintah untuk mengatasi kendala pasokan batu bara, termasuk upaya diversifikasi sumber energi, peningkatan impor batu bara, serta percepatan proyek pembangkit listrik tenaga air dan energi terbarukan.
| Faktor | Keterangan |
|---|---|
| Ketersediaan batu bara | Turun 15% dari target |
| Pemadaman bergilir | 3 jam rata-rata per hari |
| Respon pemerintah | Pernyataan keamanan pasokan listrik |
Para pengamat energi memperingatkan bahwa jika masalah pasokan batu bara tidak segera diatasi, risiko pemadaman dapat meluas dan menambah beban ekonomi rumah tangga serta industri. Mereka menekankan pentingnya kebijakan jangka panjang yang mengurangi ketergantungan pada batu bara dan memperkuat infrastruktur energi terbarukan.