Setapak Langkah – 14 Agustus 2026 | Pertamina Lubricants meluncurkan program Kampung Binaan yang bertujuan memperkuat ekonomi sirkular di sejumlah desa. Program ini memfokuskan pada pengelolaan sampah melalui bank sampah yang terintegrasi dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Bank sampah berfungsi sebagai titik kumpul, pemilahan, dan penjualan kembali material yang dapat didaur ulang, seperti plastik, kertas, logam, dan bahan organik. Hasil pengelolaan tersebut kemudian diserahkan kepada pelaku UMKM yang memproduksi barang bernilai tambah, antara lain tas daur ulang, kerajinan rumah tangga, pupuk kompos, serta produk pelumas ramah lingkungan.
Berikut rangkaian kegiatan utama dalam model ekonomi sirkular kampung binaan:
- Pembentukan bank sampah yang dikelola oleh warga.
- Pemilahan dan penjualan material sekunder ke pengepul atau pabrik daur ulang.
- Pengalihan material ke UMKM lokal untuk diproses menjadi produk jadi.
- Pemasaran produk melalui jaringan distribusi Pertamina dan pasar regional.
Dengan skema tersebut, beberapa desa yang tergabung telah mencatat peningkatan pendapatan yang signifikan. Data lapangan menunjukkan rata‑rata pendapatan tambahan mencapai Rp 200 juta per tahun bagi masing‑masing kelompok usaha yang terlibat.
| Desa | Pendapatan Tambahan (Rp) | Jenis Produk |
|---|---|---|
| Kampung A | 210.000.000 | Tas daur ulang, pupuk kompos |
| Kampung B | 195.000.000 | Kerajinan logam, pelumas bio |
| Kampung C | 202.000.000 | Alat rumah tangga, bahan bakar alternatif |
Manfaat yang dirasakan tidak hanya pada aspek ekonomi. Pengurangan volume sampah yang dibuang ke TPA meningkatkan kualitas lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya daur ulang.
Ke depan, Pertamina Lubricants berencana memperluas jaringan kampung binaan ke lebih dari 20 desa, menambah pelatihan teknis bagi UMKM, serta memperkenalkan teknologi pengolahan sampah berbasis bio‑katalis untuk meningkatkan efisiensi produksi.