Setapak Langkah – 11 Juni 2026 | Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang mengungkapkan penurunan signifikan pada jumlah penduduk berusia di bawah 15 tahun. Dalam kurun waktu satu tahun, Jepang kehilangan sekitar 350.000 anak, menjadikan populasi anak-anak terendah dalam catatan sejarah negara tersebut.
| Tahun | Populasi Anak (0-14) | Penurunan Tahunan |
|---|---|---|
| 2022 | 12,8 juta | – |
| 2023 | 12,4 juta | 350.000 |
Fenomena penurunan jumlah anak ini bukan sekadar angka demografis; dampaknya terasa luas pada bidang ekonomi, pasar tenaga kerja, serta sistem kesejahteraan sosial. Dengan basis penduduk muda yang menyusut, proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang semakin terhambat, sementara beban pensiun dan perawatan lansia menjadi lebih berat.
Pemerintah Jepang telah meluncurkan serangkaian kebijakan untuk merangsang angka kelahiran, termasuk subsidi bagi keluarga, perluasan layanan penitipan anak, dan insentif pajak. Namun, hingga kini respons masyarakat masih terbatas, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti biaya hidup tinggi, tekanan kerja, serta perubahan pola hidup generasi muda.
Para pakar menilai bahwa untuk mengatasi krisis demografis ini, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, mencakup reformasi pasar kerja, peningkatan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional, serta upaya menarik tenaga kerja asing secara terkelola.