Setapak Langkah – 04 Agustus 2026 | Menurut survei terbaru, kualitas layanan broadband Indonesia menempati posisi ke‑sembilan dari sepuluh negara anggota ASEAN, berada di atas Myanmar namun tertinggal dari Malaysia dan Vietnam. Kondisi ini mencerminkan kesenjangan infrastruktur telekomunikasi yang masih signifikan, terutama di wilayah pedesaan.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa sekitar 2.000 desa di seluruh nusantara belum terjangkau jaringan internet seluler maupun kabel, sehingga disebut sebagai zona blankspot. Masyarakat di daerah tersebut bergantung pada layanan telepon seluler yang tidak stabil atau bahkan tidak ada sama sekali.
Berikut ini rangkuman peringkat broadband di ASEAN yang dirilis pada tahun 2023:
| Negara | Peringkat Broadband |
|---|---|
| Indonesia | 9 |
| Myanmar | 10 |
| Malaysia | 8 |
| Vietnam | 7 |
Beberapa faktor utama yang menyebabkan tingginya jumlah desa blankspot antara lain:
- Terbatasnya investasi swasta di wilayah dengan potensi pasar kecil.
- Topografi Indonesia yang berupa kepulauan dengan banyak daerah terpencil.
- Kendala regulasi dan proses perizinan yang lama.
- Keterbatasan dana pemerintah untuk program pembangunan jaringan fiber optic.
Pemerintah telah meluncurkan program Palapa Ring dan inisiatif Desa Digital dengan target menurunkan jumlah desa tanpa akses internet menjadi kurang dari 500 pada akhir 2025. Upaya tersebut mencakup penyediaan infrastruktur fiber optik, pembangunan menara seluler, serta subsidi bagi operator untuk menambah cakupan layanan.
Namun, realisasi program masih menghadapi tantangan teknis dan administratif. Beberapa daerah masih memerlukan studi kelayakan yang lebih mendalam, sementara koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan penyedia layanan belum optimal.
Jika tidak segera diatasi, kesenjangan digital dapat memperlebar jurang ekonomi antara wilayah perkotaan dan pedesaan, menghambat akses pendidikan daring, layanan kesehatan telemedicine, serta peluang usaha berbasis internet.
Para ahli menyarankan pendekatan multistakeholder, termasuk peningkatan alokasi anggaran, penyederhanaan regulasi, serta insentif fiskal bagi pelaku industri. Selain itu, pemanfaatan teknologi satelit berbiaya rendah dapat menjadi alternatif jangka pendek untuk menjangkau daerah paling terpencil.