Setapak Langkah – 30 Maret 2026 | Kelompok pemberontak Houthi di Yaman pada Sabtu (28 Maret 2026) meluncurkan serangkaian rudal balistik dan drone yang mengarah ke wilayah selatan Israel, termasuk kota Beersheva dan Eilat. Serangan ini diumumkan sebagai bentuk solidaritas dengan Iran yang tengah berkonflik dengan Israel, menandai langkah pertama Houthi secara terbuka menembakkan senjata ke tanah Israel.
Latar Belakang Serangan
Sejak akhir Februari 2026, koalisi militer Amerika Serikat dan Israel telah melakukan operasi bersama terhadap posisi‑posisi strategis Iran di wilayah Timur Tengah. Eskalasi tersebut memicu reaksi keras dari kelompok‑kelompok pro‑Iran, termasuk Hizbullah di Lebanon dan kini Houthi di Yaman. Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa serangan ini merupakan balasan terhadap “eskalasi militer” yang melibatkan Palestina, Lebanon, Irak, serta operasi militer AS‑Israel yang menargetkan Iran.
Detail Operasi Militer
Menurut laporan militer Israel, sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian besar rudal balistik yang diluncurkan pada pagi hari. Sirene peringatan terdengar di Beersheva dan kota‑kota sekitarnya, sementara drone yang diklaim menuju kota resor Eilat berhasil ditembak jatuh. Selain rudal balistik, Houthi juga mengirimkan rudal jelajah yang kemudian dihentikan sebelum menembus wilayah udara Israel.
- Rudal balistik: Diluncurkan dari wilayah Yaman, diarahkan ke target militer sensitif di selatan Israel.
- Rudal jelajah: Dihentikan oleh pertahanan udara Israel sebelum mencapai sasaran.
- Drone: Ditembak jatuh di atas kawasan Eilat, mengindikasikan kemampuan pengintaian udara Houthi.
Reaksi Israel dan Komunitas Internasional
Pemerintah Israel menyatakan kesiapan untuk menanggapi setiap ancaman yang muncul dari Yaman, sekaligus menegaskan bahwa sistem pertahanan Iron Dome dan Arrow berfungsi dengan baik. Pada saat yang sama, pejabat militer Amerika Serikat memberikan dukungan logistik kepada Israel dalam memperkuat pertahanan udara di kawasan tersebut.
Beberapa negara di kawasan, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, mengeluarkan pernyataan kehati‑hati, menekankan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat mengganggu jalur perdagangan penting di Selat Bab al‑Mandeb. Selat tersebut merupakan titik krusial yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, dan gangguan di sana dapat memengaruhi rantai pasok global.
Implikasi Strategis dan Ekonomi
Keterlibatan Houthi menambah dimensi baru pada konflik yang sebelumnya didominasi oleh negara‑negara besar. Secara militer, kemampuan Houthi untuk menembakkan rudal balistik menandakan peningkatan signifikan dalam arsenalnya, yang sebagian besar didukung oleh Iran. Secara ekonomi, potensi gangguan pada jalur pelayaran Bab al‑Mandeb dapat menimbulkan kenaikan harga minyak dunia, mengingat sebagian besar ekspor minyak Timur Tengah melewati rute tersebut.
- Keamanan maritim: Risiko serangan terhadap kapal komersial di Laut Merah meningkat.
- Harga energi: Fluktuasi harga minyak dapat terjadi bila jalur pengiriman terganggu.
- Stabilitas regional: Penambahan aktor militer baru dapat memperpanjang durasi konflik.
Houthi menegaskan komitmen untuk terus melanjutkan operasi militer hingga tujuan politik mereka tercapai, termasuk dukungan penuh terhadap Iran dan sekutu‑sekutunya di kawasan. Mereka juga memperingatkan kesiapan melakukan intervensi lebih luas bila konflik terus meluas.
Serangan ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika konflik Timur Tengah, memperluas lingkaran aktor yang terlibat dan meningkatkan risiko eskalasi yang dapat memengaruhi keamanan global serta stabilitas ekonomi internasional.