Setapak Langkah – 29 Maret 2026 | Ketua Umum PBNU, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya sikap dewasa dalam menanggapi perbedaan penanggalan Idul Fitri 1447 H yang muncul di beberapa wilayah. Ia mengingatkan warga Indonesia, khususnya anggota Muhammadiyah, untuk tidak terbawa emosi atau rasa sakit hati (baper) ketika ada perbedaan satu hari dalam pelaksanaan Hari Raya.
Ia menekankan bahwa:
- Menghargai keputusan otoritas keagamaan setempat menunjukkan rasa hormat terhadap tradisi dan ilmu yang mendasarinya.
- Sikap dewasa menghindarkan konflik yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
- Dialog dan komunikasi terbuka antara lembaga keagamaan dapat memperkecil kesalahpahaman.
Haedar Nashir menambahkan bahwa perbedaan dalam penetapan tanggal Idul Fitri tidak boleh menjadi bahan perpecahan. “Kita harus menilai perbedaan dengan kepala dingin, bukan dengan perasaan yang mudah tersulut,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meneladani nilai-nilai kebersamaan yang diajarkan dalam Islam, seperti tolong‑menolong, saling memaafkan, dan menahan diri dari sikap merendahkan pihak lain.
Dengan mengedepankan kedewasaan, diharapkan perbedaan kecil dalam penanggalan Idul Fitri justru menjadi momentum untuk memperkuat persatuan bangsa, alih-alih menimbulkan perpecahan.