Setapak Langkah – 12 Juni 2026 | Ekspor minyak mentah Iran ke China mengalami penurunan drastis hingga sekitar 80 persen, mencatat level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini bertepatan dengan peningkatan tekanan sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat kepada perusahaan-perusahaan China yang terlibat dalam perdagangan minyak Iran.
Sanksi terbaru AS menargetkan sejumlah entitas keuangan, logistik, dan perusahaan energi China yang diduga membantu Iran menghindari pembatasan perdagangan. Dengan menutup jalur pembiayaan dan layanan transportasi, Washington berupaya memperketat isolasi ekonomi Iran dan mengurangi kemampuan negara tersebut memperoleh pendapatan dari penjualan minyak.
Berikut adalah perkiraan volume ekspor minyak Iran ke China sebelum dan sesudah sanksi diberlakukan:
| Tahun/Bulan | Volume Ekspor (juta barrel) |
|---|---|
| 2022 (tahun penuh) | ~20 |
| 2023 Q1 | ~12 |
| 2023 Q2 (setelah sanksi) | ~4 |
Data di atas menunjukkan penurunan tajam sekitar 80 persen pada kuartal kedua 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut tidak hanya memengaruhi pendapatan Iran, tetapi juga mengganggu pasokan minyak China yang selama ini mengandalkan Iran sebagai salah satu sumber utama.
Implikasi ekonomi bagi Iran sangat signifikan. Pendapatan dari ekspor minyak merupakan sumber devisa utama bagi negara yang tengah berjuang mengatasi inflasi tinggi dan kebutuhan pembiayaan ulang utang. Dengan menurunnya pemasukan, pemerintah Tehran diperkirakan akan memperketat kebijakan fiskal dan mencari alternatif pasar, seperti India atau negara-negara di Timur Tengah.
Bagi China, sanksi AS menambah kompleksitas dalam strategi energi nasional. China telah berupaya diversifikasi sumber impor minyak untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah. Penurunan impor minyak Iran mendorong Beijing mempercepat proyek energi alternatif, termasuk peningkatan impor LNG, investasi pada energi terbarukan, dan pengembangan cadangan strategis minyak dalam negeri.
Secara global, penurunan ekspor minyak Iran ke China berpotensi menambah ketidakstabilan harga minyak mentah. Jika sanksi terus meluas, pasokan minyak dunia dapat berkurang, menimbulkan tekanan pada harga jual di pasar spot. Namun, produsen lain seperti Rusia dan negara-negara OPEC+ dapat menyesuaikan produksi untuk menstabilkan pasar.
Ke depan, keputusan kebijakan Amerika Serikat mengenai sanksi tambahan akan menjadi faktor penentu arah perdagangan energi antara Iran, China, dan pasar global. Pemerintah Iran diprediksi akan memperkuat diplomasi ekonomi dengan negara-negara yang bersedia menembus tekanan Barat, sementara China mungkin akan meningkatkan upaya melindungi perusahaan domestik dari konsekuensi sanksi internasional.