Setapak Langkah – 06 Juni 2026 | Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih berada pada kondisi yang kuat dan terjaga dengan baik meski menghadapi dinamika global yang menantang.
Faktor‑faktor penopang stabilitas
- Ketahanan fiskal: Pemerintah berhasil menurunkan defisit anggaran melalui pengendalian belanja dan peningkatan penerimaan pajak.
- Stabilitas harga: Kebijakan moneter yang responsif membantu menurunkan tekanan inflasi, khususnya pada sektor pangan dan energi.
- Keseimbangan neraca berjalan: Surplus neraca berjalan tetap terjaga berkat ekspor komoditas yang kuat dan aliran investasi asing yang stabil.
- Kepercayaan konsumen: Survei indeks kepercayaan konsumen menunjukkan peningkatan, menandakan masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi ekonomi jangka pendek.
Data kunci ekonomi Indonesia (2023‑2024)
| Indikator | 2023 | Proyeksi 2024 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB | 5,2 % | 5,1‑5,3 % |
| Inflasi | 3,1 % | 2,8‑3,0 % |
| Defisit Anggaran | 2,9 % PDB | ≤2,8 % PDB |
| Surplus Neraca Berjalan | US$ 7,5 miliar | US$ 8‑9 miliar |
Pardede menambahkan bahwa meskipun terdapat ketidakpastian eksternal, seperti tekanan geopolitik dan volatilitas harga komoditas, kebijakan makroekonomi yang terkoordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan otoritas terkait mampu meredam dampak negatif.
Ia juga menekankan pentingnya reformasi struktural, terutama peningkatan produktivitas sektor manufaktur dan pengembangan infrastruktur digital, untuk memperkuat daya saing jangka panjang.
Dengan fondasi yang tetap kuat, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga pola konsumsi yang bijak, sementara pelaku usaha dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan yang ada tanpa khawatir akan gejolak ekonomi yang signifikan.