Setapak Langkah – 02 Juni 2026 | Dalam kurun waktu tujuh hari terakhir, dua ekor hiu paus (Rhincodon typus) ditemukan terdampar di pesisir Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kedua spesimen tersebut ditemukan pada tanggal 20 dan 26 Mei 2024 di pantai-pantai berpasir Klayatan dan Karangduwur, masing‑masing dengan panjang sekitar 5,5 meter dan 6,2 meter.
Penemuan ini memicu respons cepat dari sejumlah instansi pemerintah dan lembaga non‑pemerintah. Tim gabungan yang dibentuk meliputi Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cilacap, Pusat Penelitian Ilmu Kelautan (PPIK) LIPI, serta aparat kepolisian dan satpol PP setempat.
Tim melakukan serangkaian langkah untuk menilai kondisi hiu paus dan mengidentifikasi faktor penyebab terdampar, antara lain:
- Pemeriksaan fisik dan pencatatan luka atau tanda stres pada tubuh hewan.
- Pengambilan sampel air laut di sekitar lokasi untuk mengukur suhu, kadar oksigen terlarut, dan polutan.
- Pemantauan data cuaca dan gelombang selama seminggu terakhir melalui BMKG.
- Wawancara dengan saksi mata dan nelayan setempat untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas laut.
Hasil sementara menunjukkan bahwa kombinasi suhu air yang naik di atas rata‑rata tahunan, penurunan konsentrasi plankton (makanan utama hiu paus), serta gelombang yang tidak stabil kemungkinan besar menjadi penyebab utama hiu paus mencari perairan dangkal dan akhirnya terdampar.
Berikut rangkuman timeline kejadian:
| Tanggal | Lokasi | Keterangan |
|---|---|---|
| 20 Mei 2024 | Pantai Klayatan, Cilacap | Hiu paus pertama terdampar, ditemukan oleh warga lokal |
| 22 Mei 2024 | Klinik Hewan Liar Cilacap | Tim BKSDA melakukan pemeriksaan awal |
| 26 Mei 2024 | Pantai Karangduwur, Cilacap | Hiu paus kedua terdampar, kondisi lebih lemah |
| 27 Mei 2024 | Kantor Dinas Kelautan | Tim gabungan dibentuk, analisis data lingkungan dimulai |
Pihak berwenang berencana untuk melakukan upaya relokasi hiu paus ke perairan yang lebih dalam, asalkan kondisi kesehatan memungkinkan. Jika tidak, proses pemusnahan secara manusiawi akan dipertimbangkan untuk mencegah penderitaan lebih lanjut.
Kejadian ini menambah catatan penting tentang perubahan pola migrasi hiu paus di perairan Nusantara. Para ilmuwan mengingatkan pentingnya pemantauan rutin terhadap suhu laut dan ketersediaan plankton sebagai indikator kesehatan ekosistem laut.
Warga Cilacap diharapkan dapat melaporkan temuan serupa kepada otoritas setempat serta mendukung upaya konservasi dengan tidak melakukan penangkapan atau gangguan terhadap satwa laut yang terdampar.