Setapak Langkah – 26 April 2026 | Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) menyerukan pemerintah Indonesia untuk memperkuat ekosistem industri baterai berbasis nikel, sebagai bagian penting dalam upaya mencapai kemandirian energi nasional.
Indonesia, yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, dipandang memiliki potensi strategis untuk menjadi pemasok utama bahan baku baterai kendaraan listrik (EV). Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi nikel Indonesia mencapai sekitar 1,3 juta ton pada tahun 2023, dengan sebagian besar diekspor sebagai konsentrat mentah.
| Tahun | Produksi Nikel (ton) | Ekspor (ton) |
|---|---|---|
| 2021 | 1,2 juta | 1,1 juta |
| 2022 | 1,3 juta | 1,15 juta |
| 2023 | 1,3 juta | 1,2 juta |
Namun, IAGL ITB menekankan bahwa nilai tambah yang dapat diciptakan melalui pengolahan nikel menjadi bahan baku baterai masih jauh di bawah potensi maksimal. Mereka mengusulkan serangkaian langkah strategis, antara lain:
- Pengembangan fasilitas pengolahan nikel menjadi kobalt‑nikel (NCM) dan nikel‑kobalt‑mangan (NCM) dalam negeri.
- Peningkatan riset dan pengembangan (R&D) pada teknologi sel baterai berkapasitas tinggi.
- Pemberian insentif fiskal bagi investor yang menanamkan modal dalam rantai nilai baterai.
- Penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri untuk transfer pengetahuan.
- Penetapan standar keamanan dan lingkungan yang sejalan dengan praktik internasional.
Jika kebijakan tersebut diimplementasikan, Indonesia tidak hanya akan mengurangi ketergantungan impor baterai, tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan ekspor, dan mempercepat transisi menuju kendaraan listrik. Pemerintah saat ini telah meluncurkan program “Baterai Nasional” yang menargetkan produksi 2 GWh baterai dalam lima tahun ke depan, namun para ahli menilai target tersebut masih memerlukan dukungan infrastruktur dan regulasi yang lebih kuat.
Selain manfaat ekonomi, pengembangan industri baterai nikel diharapkan dapat memperkuat keamanan energi nasional. Dengan memiliki kapasitas produksi baterai dalam negeri, Indonesia dapat lebih mandiri dalam penyimpanan energi terbarukan, mengurangi beban jaringan listrik, dan meningkatkan ketahanan terhadap fluktuasi harga bahan bakar fosil.
Secara keseluruhan, dorongan IAGL ITB mencerminkan keinginan kolektif akademisi dan industri untuk menjadikan sumber daya mineral Indonesia sebagai motor penggerak ekonomi hijau. Implementasi kebijakan yang terintegrasi akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi kemandirian energi melalui industri baterai nikel.