Setapak Langkah – 24 April 2026 | Film “The Devil Wears Prada 2” kembali menuai sorotan setelah sebuah kelompok aktivis budaya menuduh film tersebut mengandung unsur rasisme lewat cara menampilkan karakter beretnis Tionghoa.
Karakter yang dimaksud adalah seorang asisten mode berkulit kuning bernama Mei Ling, yang muncul dalam satu adegan singkat di mana ia hanya berperan sebagai pelayan yang melayani majikan elit. Kritik utama mengarah pada stereotip yang dianggap menyepelekan peran orang Tionghoa di industri fashion serta penggunaan dialog yang terkesan merendahkan.
Berikut beberapa poin utama yang diangkat oleh para pengkritik:
- Karakter Tionghoa hanya muncul dalam peran layanan, tanpa latar belakang atau perkembangan pribadi.
- Dialog yang diberikan mengandung frasa‑frase klise yang menonjolkan “eksklusivitas” budaya Barat.
- Kurangnya representasi positif bagi aktor atau aktris Tionghoa dalam produksi film ini.
Produser film menanggapi bahwa pemilihan karakter tersebut bersifat artistik dan tidak bermaksud menyinggung. Mereka menambahkan bahwa proses casting melibatkan pencarian talenta internasional, termasuk aktor Tionghoa yang terlibat dalam produksi lain.
Sementara itu, organisasi non‑pemerintah yang fokus pada representasi budaya menuntut agar studio film melakukan evaluasi internal dan menambah keberagaman dalam naskah serta casting. Mereka mengingatkan bahwa media massa memiliki peran penting dalam membentuk persepsi publik terhadap minoritas.
Kontroversi ini muncul bersamaan dengan meningkatnya kesadaran global akan pentingnya representasi yang adil dalam industri hiburan. Beberapa film besar belakangan ini telah melakukan penyesuaian, seperti menambah tokoh utama beragam etnis atau mengubah skenario yang dianggap sensitif.
Jika tuntutan aktivis tidak diindahkan, kemungkinan munculnya boikot atau penurunan performa box office dapat menjadi risiko bagi studio. Di sisi lain, respons positif dari penonton yang menghargai keberagaman dapat meningkatkan citra brand dan membuka peluang pasar baru, terutama di Asia.
Ke depan, para pembuat film diharapkan lebih berhati-hati dalam menampilkan karakter dari latar belakang budaya yang berbeda, menghindari stereotip, serta melibatkan konsultan budaya untuk memastikan akurasi dan rasa hormat.