Setapak Langkah – 20 Mei 2026 | CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa saham-saham perbankan yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini berada pada tingkat undervalued, artinya harganya masih di bawah nilai wajar. Penilaian ini didasarkan pada analisis fundamental dan perbandingan dengan standar industri.
- Rasio harga terhadap laba (P/E) yang secara historis lebih rendah dibandingkan rata‑rata global.
- Rasio harga terhadap nilai buku (P/B) yang masih berada di bawah 1,5 kali, menandakan potensi upside yang signifikan.
- Stabilitas profitabilitas dan pertumbuhan aset yang konsisten selama beberapa tahun terakhir.
- Dukungan regulasi yang menguatkan tata kelola perbankan dan memperkecil risiko kredit.
Berikut ini contoh ringkas beberapa bank terkemuka di Indonesia beserta indikator penilaian utama yang mencerminkan kondisi undervalued:
| Bank | P/E | P/B | ROA (%) |
|---|---|---|---|
| Bank A | 9,2 | 1,3 | 1,5 |
| Bank B | 8,7 | 1,2 | 1,7 |
| Bank C | 10,1 | 1,4 | 1,6 |
Data di atas menunjukkan bahwa mayoritas bank memiliki P/E di bawah 12 dan P/B di bawah 1,5, yang secara umum dianggap sebagai indikasi nilai wajar yang belum tercapai oleh pasar. Dengan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus membaik, permintaan kredit ritel dan korporasi diprediksi akan meningkat, memberikan dukungan tambahan bagi profitabilitas bank.
Danantara menekankan pentingnya pendekatan jangka panjang bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang ini. Ia menyarankan agar investor melakukan diversifikasi portofolio, memperhatikan fundamental masing‑masing bank, serta menghindari keputusan berbasis spekulasi jangka pendek.
Secara keseluruhan, pandangan optimis terhadap sektor perbankan ini dapat menjadi sinyal bagi para pelaku pasar untuk meninjau kembali eksposur mereka pada saham-saham perbankan, terutama yang berada di zona nilai undervalued.