Setapak Langkah – 17 Mei 2026 | Kementerian Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok menegaskan bahwa saat ini merupakan momentum penting bagi Amerika Serikat dan Iran untuk melanjutkan proses negosiasi yang telah terhenti. Beijing menekankan perlunya kedua belah pihak menyepakati langkah-langkah konkret yang dapat meredakan ketegangan di wilayah strategis Selat Hormuz, jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.
Beijing mengajak kedua negara untuk mengedepankan dialog diplomatik, menghindari eskalasi militer, serta mematuhi prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS). Dalam rangka itu, Tiongkok menawarkan peran fasilitator dengan menyarankan pertemuan multilateral yang melibatkan negara‑negara lain yang berkepentingan, seperti anggota Organisasi Negara‑Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara‑negara pengguna energi utama.
Berikut poin‑poin utama yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri China:
- Mempercepat proses dialog bilateral antara AS dan Iran.
- Menetapkan mekanisme verifikasi yang transparan untuk memastikan tidak ada pelanggaran di wilayah perairan Selat Hormuz.
- Menghindari aksi militer yang dapat memicu insiden kapal atau kapal selam.
- Mendorong kerja sama regional, termasuk dengan negara‑negara Teluk, untuk menciptakan zona aman di sekitar selat.
Pernyataan tersebut muncul setelah serangkaian insiden kapal tanker yang dilaporkan mengalami gangguan navigasi dan ancaman keamanan di Selat Hormuz. Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menegaskan komitmennya untuk menjaga kebebasan navigasi, sementara Iran menolak sanksi ekonomi yang dianggap tidak adil.
Pengaruh China dalam diplomasi regional semakin menonjol, mengingat Beijing memiliki hubungan ekonomi yang luas dengan kedua belah pihak. Beijing berharap melalui pendekatan yang bersifat inklusif, ketegangan dapat diredam dan aliran minyak tetap terjaga tanpa gangguan.
Jika negosiasi berhasil, dampak positif yang diharapkan meliputi stabilitas harga minyak dunia, peningkatan kepercayaan investor, serta penurunan risiko konflik militer di kawasan Timur Tengah.