Setapak Langkah – 09 Juni 2026 | Pada Selasa, 9 Juni, Menteri Keuangan Chatib Basri menyampaikan laporan khusus kepada Ketua Komisi II DPR, Prabowo Subianto, mengenai perkembangan situasi makroekonomi Indonesia dan potensi risiko kenaikan harga barang secara luas.
Laporan tersebut menyoroti beberapa faktor yang dapat memicu inflasi, antara lain peningkatan harga komoditas internasional, gangguan rantai pasokan, serta tekanan permintaan domestik yang masih kuat meski pertumbuhan ekonomi melambat. Selain itu, defisit fiskal yang belum teratasi secara optimal turut menambah beban pada kebijakan moneter.
Berikut poin utama yang diangkat dalam laporan khusus itu:
- Proyeksi inflasi tahunan diperkirakan mencapai 4,2 % pada kuartal pertama 2024, naik dari 3,5 % pada kuartal ketiga 2023.
- Sektor pangan, energi, dan transportasi menjadi yang paling rentan terhadap kenaikan harga.
- Rekomendasi kebijakan meliputi penyesuaian suku bunga, penguatan kontrol harga strategis, serta peningkatan subsidi energi bagi rumah tangga berpendapatan rendah.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut tabel proyeksi inflasi berdasarkan sektor utama:
| Sektor | Inflasi 2023 Q3 | Inflasi 2024 Q1 (perkiraan) |
|---|---|---|
| Pangan | 3,8 % | 4,6 % |
| Energi | 4,2 % | 5,0 % |
| Transportasi | 3,5 % | 4,3 % |
Jika tekanan harga tidak terkendali, beban pada konsumen, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah, dapat meningkat signifikan, mengurangi daya beli dan memperlambat pertumbuhan konsumsi domestik.
Prabowo menanggapi laporan tersebut dengan menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian untuk mengimplementasikan langkah-langkah penanggulangan yang cepat dan tepat sasaran, sambil tetap menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.